Friday, July 15, 2011

Lidenskabelige kærlighed [Danmark x Oresund R 18]

Lidenskabelige kærlighed [Passionate Love]
Disclaimer: Matthias Densen (Danmark) punya pak Hidekaz sedangkan Oresund punya eike
Warning: R 18, pedo hentai (katakan apa saja), dsb. DLDR
Word count: 1400 (bisa pas begitu rupanya)

**

Malam yang tenang dimana Oresund bisa bersantai dengan tenang tanpa gangguan Matthias dan beberapa teman berisiknya yang sering mengganggu ke rumahnya hanya untuk meminta makanan gratis. Belakangan Berwald juga sedang pergi ke luar negeri bersama istri yang baru dinikahinya empat hari yang lalu sehingga akhirnya Oresund menempati rumah itu sendirian tanpa ada yang menemaninya.

“Benar-benar hari yang melelahkan,” gumam Oresund dengan penuh kekesalan sembari memukul-mukul bantalnya. “Lagi-lagi si kambing pedo itu berkunjung ke rumahku untuk minta makanan. Sejak Bror tidak ada di sini semuanya menjadi kacau!”

Gadis enam belas tahun menghela nafas panjang—ia sama sekali tidak rela kakak tersayangnya menjadi milik orang lain. Ia dan kakaknya memiliki jarak usia yang cukup jauh—sekitar 16 tahun dari dirinya ditambah usia istri kakaknya hampir seumuran dengan Oresund.

Tak tahu lagi apa yang harus ia perbuat, pada akhirnya Oresund memutuskan untuk berendam di air hangat sejenak sambil merenung apa yang harus ia lakukan untuk melupakan cintanya terhadap Berwald. Ia tersadar baru merasa kesepian hari ini karena Matthias belakangan ini tidak datang ke rumahnya karena ia menyembur Matthias dengan beberapa kata-kata makian yang hampir sama dengan Arthur.

“Menyebalkan,” rutuk Oresund sambil memainkan air di bak mandi seperti anak kecil. “Aku benci ini. Sangat benci sendirian.”

Matanya nyalang memandangi langit-langit. Merasa kesepian akan hidupnya sendiri, tidak punya tempat untuk bergantung. Rasanya menyebalkan sekali.

“Masih ingin berendam sampai pagi, min kaereste?” tanya seseorang dengan nada menggoda di telinga Oresund. Oresund bergidik dan ia mendapati Matthias duduk di sebelah bak mandi dengan cengiran khasnya. Mata Matthias menatap Oresund seperti singa yang kelaparan dan siap untuk memangsa Oresund selagi gadis itu lengah. “Boleh aku ikut berendam ke dalam?”

Oresund berjengit dan membenamkan tubuhnya ke dalam air, malu mendapati tubuh mungilnya sejak tadi dipandangi oleh Matthias. “Hentikan kata-kata mesum seperti itu! Siapa juga yang mau mandi bersama pria empat puluh tahunan sepertimu. Dasar om-om kesepian.”

“Om-om kesepian, katamu,” gumam Matthias, melumat bibir Oresund dengan ganas. “Mungkin ya, karena aku berhasrat kepadamu malam ini.”

Oresund terkesiap ketika bibir Matthias mengecupnya dengan ganas, ia tidak berkutik terhadap sentuhan pria Denmark itu di bibirnya. Ciuman Matthias semakin lama semakin menuntut dan memaksa Oresund untuk membuka bibirnya.

“Hentikan, bodoh!” bentak Oresund kasar ketika lidah Matthias bermain-main di dalam mulutnya. “Aku akan mengadukan hal ini pada bror!”

Ucapan Oresund membuat hasrat Matthias semakin membara. Untuk sementara ia melepaskan ciumannya dari Oresund untuk melepaskan pakaiannya sendiri agar ia bisa bergabung dengan Oresund. Oresund ngeri membayangkan apa yang akan terjadi dengan dirinya dan menutup matanya dalam-dalam. Ya ampun, bagaimana Matthias bisa masuk ke dalam kamar mandi maupun rumahnya. Ia bisa merasakan Matthias kini masuk ke dalam bak mandi berukuran besar tersebut dan menyentuh tubuhnya.

“Sekarang, min kaereste. Buktikan bahwa kau berani menghadapi tantangan ini,” kata Matthias dengan nada menatang lalu memeluk Oresund dari belakang dengan erat seraya memain-mainkan payudara Oresund. Mencubitnya pelan-pelan, memilin sekaligus menggoda lalu mencium bahu Oresund dan menimbulkan bekas gigitan di sana.

Oresund terhenyak, ia bisa merasakan ada sesuatu yang membuat dirinya gemetaran ketika Matthias menyentuh payudaranya. Sensasi ini tidak pernah ia rasakan sebelumnya dan tanpa sadar cairan yang berasal dari kewanitaannya keluar bersamaan dengan air.

“Matthias—hentikan, kumohon hentikan,” Oresund mengerang, berusaha lepas dari Matthias. “Jangan lakukan ini padaku.”

Sayang bagi Oresund, semakin ia minta berhenti semakin berhasrat pula Matthias. Ia sendiri tak tahu ide gila apa yang mendasari dirinya untuk memerawani gadis yang lebih cocok menjadi anaknya ini. Tetapi ia sama sekali tidak peduli, asalkan Oresund bisa menjadi miliknya dan larut dalam kenikmatan bersamanya.

“Bagaimana rasanya bercinta di dalam air untuk pertama kali?” tanya Matthias pelan. Ia membalikkan tubuh Oresund agar bisa saling berhadap-hadapan satu sama lainnya. “Kuakui ini sensasi yang berbeda untukmu—karena kau masih perawan.”

Oresund berjengit dan malu mengakui bahwa Matthias begitu tampan sekaligus menggairahkan di saat-saat seperti ini. Tubuh telanjang Matthias terlihat indah dan menarik, membuat Oresund berpikir siapa saja wanita yang pernah bercinta dengan Matthias. “Perawan atau tidak—bukan urusanmu, om-om pedo,” sindirnya terbata-bata. “Sekarang lepaskan aku.”

“Tidak,” Matthias berkata dan menahan tangan Oresund dengan kasar. “Biarkan aku menikmati tubuh wanitamu yang selama ini kuimpikan. “

Oresund mengerang dan menendang-nendang Matthias, tetapi tak berapa lama ia harus terpaksa diam karena Matthias menahan kedua kakinya dengan salah satu kaki Matthias. Ngeri membayangkan pria ini berusaha mengajaknya bercinta, ia bagaikan menyerahkan diri di hadapan om-om. Akan ada kesakitan beberapa saat kemudian setelah ini—semoga saja ia bisa bergerak dan masih ada pria yang mau menjadi kekasihnya.

Bibir Matthias mulai menghisap payudara Oresund dengan ganas dan menggigitnya pelan. Wajah Oresund merah padam dan malu melihat apa yang dilakukan Matthias terhadap payudaranya. Ia tersadar bahwa gairah pria bila wanita berada di dekatnya akan terlihat jelas seperti ini ditambah kini ia merasakannya.

“Kau benar-benar memalukan, om-om pedo Viking,” umpat Oresund kasar. “Tidak bisakah kau tahan nafsumu sedikit sebelum aku menendangmu.”

“Tidak akan kemana-mana, kau,” balas Matthias pelan dan bibirnya berpindah ke leher Oresund, membuat beberapa hisapan di dalamnya. “Aku akan membuatmu merasakanku—tak peduli kau suka akan hal ini atau tidak.”

Setelah Matthias mengatakan hal itu, tangannya mulai mencari-cari dimana kewanitaan Oresund berada. Perlu waktu yang cukup lama untuk menemukan hal itu karena Oresund berusaha menghindarinya. Tak berapa lama, Matthias mendapatkannya dan mulai menhunjam dan memasuki tubuh Oresund yang masih polos beberapa puluh menit sebelumnya. Menemukan perlawanan kokok Oresund, titik dimana dinding kokoh untuk menahan penyelundup. Ia terus merangsek dengan kasar hingga perlahan-lahan menembus pertahanan itu dan merobek milik Oresund.

“Matthias,” isaknya dan memeluk Matthias dengan erat, kuku Oresund terbenam di punggung Matthias. Rasa sakit di bagian kewanitaannya akibat hunjaman Matthias telah membutakan segala pikirannya dan juga logikanya. “Kubilang hentikan, Matthias.”

Matthias menatap mata Oresund dalam-dalam dan mencium dagu Oresund dengan lembut. “Well, dugaanku benar—kau masih belum berpengalaman dalam hal ini. Kurasa sebentar lagi kau akan menangis,” tambahnya jahil.

Oresund mengeluh dengan wajah merah padam, menahan rasa sakit. “Aku masih perawan, bukan tak berpengalaman,” tambahnya malu-malu. “Dan kau mengambil milikku yang selama ini kujaga.”

Lagi dan lagi, Matthias menggoda tubuh Oresund dan kembali membenamkan miliknya. Oresund terkesiap, rasa sakit itu hilang begitu saja di dalam tubuhnya dan digantikan oleh perasaan membumbung tinggi. Oresund merasa terangkat ke wilayah yang jauh lebih tinggi dan luas. Larut ke dalam nikmatnya percintaan yang disodorkan oleh Matthias.

Untuk terakhir kali, Matthias menghunjamkan tubuhnya ke tubuh Oresund dalam waktu yang lama seolah-olah ingin menyatukan mereka berdua untuk selamanya. Ia mengambil banyak kepuasan dari Oresund dan senang akan desahan manis gadis kecil itu. Mungkin Matthias tidak akan pernah melewatkan kesempatan untuk bercinta dengan Oresund sekali lagi. Terbukti bahwa Oresund memberikan kepuasan untuknya jauh lebih daripada yang pernah ia bayangkan.

Setelah Matthias melepaskan diri dari Oresund, air mata mulai merebak di wajah Oresund. Gemetar dan merasa malu atas perlakuan Matthias yang tidak senonoh sekaligus membuatnya kecanduan seperti ini.

“Mengapa berhenti?” tanya Oresund gemetar dan menutupi buah dadanya.

Matthias menatap mata Oresund dan mencium pelupuk mata Oresund dengan lembut. “Tidak akan apa-apa, sayang. Aku ingin menanam benihku di dalam rahimmu, my little Oresund.”

Oresund mengangguk dengan polosnya dan perlahan-lahan tertidur di bak mandi dengan wajah letih. Malam ini lebih melelahkan dari biasanya dan juga lebih memabukkan untuknya. Tidak ada yang bisa menggantikan malam ini.

.
.
.

Beberapa jam kemudian, Oresund terbangun di tempat tidurnya sendiri dan mendapati ia mengenakan lingerie merah muda yang sangat mini dan memperlihatkan kakinya yang jenjang. Sontak wajah Oresund merah padam.

“Siapa yang memakaikan baju seperti ini,” ucap Oresund malu—ia benar-benar tidak ingat apa yang telah ia pakai ataupun ia lakukan. “Aku akan mengganti baju ini sekarang juga.”

Belum sempat Oresund turun dari tempat tidurnya, sesosok pria telanjang terbaring di sebelah tempat tidurnya. Mendadak, wajah Oresund berubah poker face dan menutupi tubuhnya dari selimutnya. Ia ingat sekarang—ia tadi bercinta dengan Matthias, lebih tepatnya dipaksa Matthias untuk melakukan ‘itu’.

Tiba-tiba ia jijik membayangkan ketika tubuhnya dengan tubuh Matthias bersatu dengan intimnya. Suara desahan yang keluar dari mulutnya membuatnya jijik setengah mati. Seandainya waktu bisa diulang ia akan mengunci pintu rumah rapat-rapat.

“Kau sudah bangun?” tanya Matthias serak di dalam tidurnya, tangannya memeluk pinggang Oresund dengan erat.

Oresund bergidik dan menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut, bergulung seperti bola. “Hiyaa—aku takut padamu. Benar-benar takut padamu. Menjauh dariku, rapist.”

Di luar dugaan Oresund, Matthias memeluk Oresund dengan penuh sayang dan bukan berdasarkan nafsu semata. “Maafkan aku, min kaereste. Telah membuatmu tersiksa tidak terperi seperti ini. Tetapi aku tahu bagaimana perasaanku padamu.”

Raut wajah Oresund mulai mengendur. “Mau bilang apa?”

“Aku mencintaimu sejak lama,” ujar Matthias serak.

Mungkin inilah yang namanya kejutan di tengah malam.

FIN


A/N Maaf abal, saya kagak bisa tidur sama sekali jadi nulis fic bokep-pedo macam ginian. PWP-nya kurang hawt ya? Nanti saya perbaiki di fic selanjutnya. Udah lama gak nulis OC sedikitpun, jadi kangen.

No comments:

Post a Comment