Ansiedad
Word count for the fic: 871
Disclaimer: Hidekaz Himaruya dan Guadalupe Pineda untuk beberapa potongan lagunya
Rate: T
Genre: Romance/Angst
(yang mau tahu arti dari song fic lihat saja dibawahnya)
**
Ansiedad de tenerte en mis brazos musitando palabras de amor
Seumur hidupnya, Severina Oxenstierna tidak pernah membayangkan jika dirinya akan berhubungan dengan pria mata keranjang yang berdiri di depannya, apalagi jatuh cinta kepadanya. Pria itu merupakan raja penjudi ternama nomor satu sekaligus pemilik banyak kasino besar di Macau. Bereputasi buruk sekaligus menawan. Dengan mata coklat hazel yang begitu cemerlang, rambut hitam bergelombang dan berkulit agak kecoklatan. Berbeda dengan Severina yang dibesarkan di negara yang dekat dengan kutub utara, wajah Severina memucat seperti orang albino.
Luis Fernando Louriceiras, nama pria itu, pria yang menjadi pengukir cinta pertamanya ketika gadis itu pindah ke Spanyol. Pria yang jauh lebih tua sebelas tahun darinya. Mempesona Severina yang kala itu berusia empat belas tahun.
Malam itu, Luis dan Severina pergi ke restoran mewah di Ihaus, Macau. Bukan restoran yang menyajikan makanan barat seperti yang Severina biasa makan tetapi restoran chinese food kelas satu. Interior gedung restoran itu sangat mewah lengkap dengan teras yang menghadap ke arah laut. Awalnya Severina menolak pergi ke Macau berdua saja dengan Luis karena takut Luis bersikap macam-macam kepadanya tetapi Luis berjanji padanya tidak akan berbuat macam-macam. Berwald sudah mengijinkan Severina tetapi memberikan sederet ancaman maut pada Luis seolah-olah Severina adalah batu permata yang berharga dan tidak sembarang orang bisa menyentuhnya.
Mereka berdua telah selesai makan malam di restoran itu dan untuk menghilangkan rasa jenuh mereka berdiri di dekat pagar teras yang menghadap laut malam.
"Kamu pasti menyukainya, señorita Oxenstierna."
Seulas senyuman kecil tersungging di bibir Severina. "Tack sa mycket, señor Louriceiras."
Luis menggelengkan kepalanya dan menghela nafas. "Lagi-lagi kamu menggunakan bahasa asalmu, mi amor."
"Itu tidak boleh?" tanya Severina pelan sembari memainkan kedua tangannya dengan gugup.
Luis menegadahkan wajah Severina dan wajah Severina berhadapan dengan mata Luis. Severina menatap mata pria itu dengan tatapan mendalam, suatu tatapan yang tidak dimengertinya. Luis mengikatnya perlahan-lahan, mau tak mau Severina merasa kalut berhadapan dengan Luis karena cintanya.
"Aku tidak berpikir seperti itu, señorita."
Suara Luis sehalus beledru, hawa dingin menusuk gadis Swedia-Finlandia itu. Muncul karena tidak kuat dengan pesona Luis yang begitu kuat.
Severina tidak bisa mengatakan apapun.
Membisu di tempatnya sendiri sehingga menimbulkan keheningan diantara mereka berdua. Lidahnya terasa kelu untung berucap.
Dia tahu, bahwa dirinya tidak sesuai dengan Luis. Banyak wanita cantik yang bisa dipilih Luis dibandingkan dirinya mengingat Luis menyukai banyak wanita cantik untuk berkencan. Tetapi mengapa belakangan ini Luis berubah drastis dan menjauhi semua teman kencannya lalu berusaha menarik perhatian Severina. Apa pria itu sadar—
—atau hanya suatu cara agar bisa menarik perhatian gadis itu.
“Senorita,” panggil Luis pelan dan menepuk pelan pipi Severina yang putih pucat. “Sesuatu mengganggumu?”
Severina gugup, sejak awal mereka masuk ke dalam restoran mewah tersebut. Biasanya dia tidak pernah seperti ini, mungkin karena dia belum pernah berduaan dengan Luis dengan waktu yang lama seperti saat ini.
Ingin kabur dari tempat itu sekarang juga sebelum terlambat.
Gelisah sekaligus rindu berhadapan dengan pria itu.
Pelan-pelan Severina mengangkat kepalanya perlahan. “Senor Louriceiras, apa Anda percaya dengan sesuatu yang disebut cinta?”
“Ya, aku percaya tapi—“
Severina mengangguk pelan dengan perasaan kecewa dan berharap mendapatkan jawaban yang diinginkannya. Apa benar Luis mencintainya?
“Adakah seseorang yang senor Louriceiras cintai saat ini?”
“Ya—,” jawab pria itu lambat, wajahnya berubah menjadi lebih serius dari biasanya. “Gadis itu seumuran denganmu.”
Severina tersenyum lemah, bukan dirinya yang dicintai Luis tetapi orang lain. Mungkin Luis mengajaknya berduaan hanya untuk mempermainkannya atau dia memiliki alasan lain.
“Siapa?”
“Haruskah aku mengatakannya?” tanya Luis dengan nada dingin yang tidak pernah di dengarnya.
Hening
Hanya ada ombak laut dan mereka berdua sebagai saksi bisu kegelisahannya.
Ansiedad de tener tus encantos y en la boca volverte a besar
Severina gemetar dan pelan-pelan meraih wajah Luis yang tampan tanpa cacat cela dan mendekatkan wajahnya ke wajah Luis dan menempelkan bibirnya di sana. Dadanya terasa sesak. Kegelisahan itu muncul.
“Sev—“
Dilepaskan bibirnya dari bibir Luis. Air matanya menetes dan membasahi pipinya. Dadanya terasa sesak ketika Luis mengucapkan nama depannya untuk pertama kalinya.
Tetapi Severina tahu cintanya tidak bisa terbalas atau mungkin selamanya tidak akan terbalas.
Dunianya dengan Senor Louriceiras sangat berbeda bagai langit dan bumi.
Cintanya dengan Luis bagaikan lingonsylt yang setengah jadi.
“Jag alskar dig, Senor Louriceiras,” ucapnya dengan nada sesak dan senyuman sedih muncul di wajahnya. Bola mata biru miliknya tidak secerah biasanya. Hanya memancarkan kesedihan yang amat sangat.
Tal vez esté llorando mi pensamiento,tus lágrimas son perlas que caen al mar
y el eco adormecido de este lamento hace que estés presente en mi soñar.
Luis tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Severina tetapi tahu bahwa kata-kata itu pernyataan cinta untuknya. Pria itu merasakan gelagat Severina yang aneh terhadapnya.
“Apa kau—“
Severina memeluk Luis. “Ledsen—“
Kata-katanya terputus, sesungguhnya dia tidak sanggup mengatakannya tetapi sudah tidak ada cara lain.
—Jag vill sluta älska dig. Jag kan inte stå.”
Sampai kapanpun Luis tidak mengerti perkataan Severina yang sesungguhnya tetapi Severina sengaja seperti itu sebagai janjinya terhadap diri sendiri. Dua tahun lebih ia memendam perasaan mendalam terhadap Luis dan pria itu lebih suka berkencan dengan wanita lain dan mempermainkan mereka.
Ia takut untuk melangkah.
Mungkin sebaiknya ia akhiri kisah ini.
Quizás esté llorando al recordarme, y sufras en silencio pensando en mi
Y hasta tu oído llegue la melodía salvaje del eco de la pena de estar sin ti.
FIN
**
Senor/senorita: Tuan/nona
Tack sa mycket: terima kasih banyak
Jag alskar dig: I love you
Ledsen: Sorry
Jag vill sluta älska dig. Jag kan inte stå=Aku ingin berhenti mencintaimu. Aku tidak sanggup.

No comments:
Post a Comment