Friday, July 15, 2011

Sonhadores da Suécia [[OC Historical Fic]]

Disclaimer: Hidekaz Himaruya
Characters: Severina Oxenstierna (Sweden Jr/my OC->Berwald and Tiina daughter) and Luis Fernando-Louriceiras (Macau/ or when WW II he's part of Spain)

**

Ia tahu hari ini adalah hari perpisahannya dengan pria yang paling dicintainya—mungkin untuk seumur hidupnya. Tahu peluang untuk bertemu kembali dengan pria itu sangat kecil. Gadis remaja itu tidak bisa menyembunyikan kesedihannya yang mendalam ketika pria yang ia cintai selama ini memutuskan untuk berpisah dengan dirinya karena pria itu harus pergi mengikuti wajib militer untuk menghadapi perang dunia yang kedua.

Segala cara sudah ia lakukan untuk mencegah pria itu pergi dengan cara menahan pria itu di Swedia untuk sementara waktu dengan bantuan ayahnya tersayang yang sebenarnya sangat membenci pria itu.

Tetapi sudah tidak bisa dicegah, karena inilah saatnya—perpisahan yang paling memilukan di lubuk hati yang mendalam.

“Kumohon—jangan pergi,” pinta gadis remaja berusia enam belas tahun yang bernama Severina Oxenstierna—menarik lengan seorang pria Latin berambut gelap dengan kulit kecoklatan. Mata biru tua pria itu menatap dalam-dalam mata Severina. “Tinggallah di Swedia atau di Finlandia—Herr Louriceiras akan lebih aman berada di sana, dibandingkan jika Anda pergi ke Spanyol atau ke Jerman. Itu terlalu bahaya—.”

“Severina—kumohon,” pinta Luis Fernando Louriceiras dengan nada lemah, kali ini Luis tidak bersikap seperti pria mata keranjang dan sorot matanya jauh lebih serius dari biasanya—seperti ada sesosok orang lain di dalam tubuhnya. “Aku tidak bisa terus-terusan diam sementara banyak warga pendatang dari negara tempat aku dibesarkan dibantai oleh Jerman. Aku tidak bisa.”

Severina terisak dan memeluk pria berusia dua puluh delapan tahun itu dengan erat, air mata membasahi jas milik pria itu. “Jangan—aku tidak mau Anda terluka, Herr Louriceiras—ayah tiri Anda sudah maju berperang dan juga adiknya. Bisa Anda lihat berapa banyak korban yang jatuh. Kumohon pikirkan matang-matang—.”

“Sev,” Luis berkata pelan dan membalikkan tubuhnya, kedua tangannya menggenggam bahu Severina dengan erat, mengecup dahinya pelan. “Aku akan kembali dengan selamat—percayalah kepadaku. Hanya, bersabarlah—ini semua akan berakhir dengan cepat.”

Severina menyunggingkan senyum tipis—berusaha untuk tegar sekalipun ia tahu keputusan Luis antara hidup dan mati dan bisa saja nyawa Luis terancam. Ia sadar Luis memiliki tujuan mulia untuk negara asalnya, tidak seharusnya ia melarangnya seperti ini. “Herr Louriceiras—maafkan aku, aku benar-benar anak manja,” isaknya pelan. “Aku hanya ingin bilang—kembalilah dengan selamat—tanpa kurang suatu apapun—kumohon anggap saja ini permintaan—terakhirku. Aku tidak ikut berperang karena kami netral.”

“Semoga berhasil, gadis manis,” tambah Luis dengan nada menggoda yang dipaksakan untuk menenangkan Severina. Pria itu tahu Severina sedih karenanya. “Aku salut kepadamu—yang sama sekali tidak ikut berperang melawan kekuasaannya. Senhor Oxenstierna pasti bangga kepadamu—aku bisa melihatnya dari caranya ia mengancamku untuk menjauhimu.”

Severina mengangguk, ia tidak bisa menahan tawanya ketika Luis berkata seperti itu kepadanya. “Ya, kurasa senhor Oxenstierna akan senang menjadikanmu meja dan kursi jika ia sampai tahu Herr Louriceiras meninggal. Oleh karena itu, cepatlah selesaikan semuanya. Aku akan mengatakan sesuatu—.”

Percakapan mereka terputus karena tiba-tiba pintu ruangan didobrak oleh tentara berseragam bendera Spanyol dengan kasar, menarik Luis untuk segera pergi dari tempat itu.

“Kalian!” seru Luis terkejut. “Darimana kalian tahu aku berada di sini?”

“Maaf, Herr Louriceras—sudah ditunggu oleh yang lainnya,” kata salah satu pengawal. “Jangan lama-lama.”

“Bisakah kalian beri aku waktu lima menit saja,” sergah Luis marah. “Aku ingin mengucapkan kata-kata terakhir sebelum aku berpisah dengan gadis ini.”


Tentara berseragam itu menatap Severina dari atas ke bawah dengan tatapan jijik. “Oh, jadi anak ini adalah putri dari orang yang menyuplai uang untuk persenjataan Jerman selain membantu kita. Benar-benar menjijikan. Aku bisa menduga bahwa diam-diam senor Oxenstierna sengaja memancing anaknya untuk mendekati tentara-tentara kami. Bukankah begitu, senorita?” tanyanya dengan nada mengancam.

“Hentikan—mereka tidak tahu apa-apa,” Luis berkata dengan nada tajam. “Mereka netral—kita tidak bisa mempersalahkan hal itu. Bawa saja aku tetapi jangan pernah libatkan senhorita Severina mengenai hal ini.”

Mereka terkesan tidak peduli, dan menarik Luis dengan kejam. “Ikut kami!” perintahnya. “Sekarang juga!”

Luis berjalan mengikuti mereka dengan setengah terpaksa, berkali-kali mata Luis terus mengarah ke Severina hingga akhirnya pandangan Luis mulai mengabur dan Severina tidak terlihat lagi.

Eu te amo, afinal. Obrigado por tudo, sua bondade. Está melhor mulher que eu já conheci. [3]

Severina terdiam di tempatnya sendiri—terpaku diam.

Hening tanpa suara. Mata tidak berpindah dari tempatnya ia memandang.[4]

“Eu te amo, senhor.”

FIN

Refrences:
1. http://en.wikipedia.org/wiki/Sweden_during_World_War_II
2. http://en.wikipedia.org/wiki/Spain_in_World_War_II

Notes:
1. Herr (Swedia), senhor (Portuguese), senor (Spanish)=Tuan
2. Senorita (spanish) and Senhorita (Portuguese)=Nona
3. Aku mencintaimu lebih dari siapapun. Terima kasih untuk semua kebaikanmu dan semuanya. Kamu wanita terbaik yang pernah kukenal selama ini.

4. I love you, Mr.

No comments:

Post a Comment