Friday, July 15, 2011

Days and Night [OC fanfiction]

Days and Night



Disclaimer: Hidekaz Himaruya, Agnes Jessica buat beberapa plotnya (lupa novel yang mana)

Rate: T->M



Warning: beberapa kata kasar, OOC, AU, suram

Pairing: Mathias x Nana



**



Chapter 1-Night



Nana Oxenstierna tidak pernah mengira bahwa hidupnya kini hancur total. Pertama, Berwald yang merupakan kakak kandungnya hanya menganggapnya sebagai seorang adik. Bahkan seandainya mereka berdua bukan kakak adik, Berwald tetap memilih Tiina Vainamoinen, gadis Finlandia sialan itu. Gadis Finlandia itu sengaja membuatnya berpisah dengan kakak tercintanya. Kedua, beberapa perusahaan yang dirintisnya satu per satu mengalami kehancuran. Dari sepuluh cabang butiknya, hanya tinggal empat yang tersisa. Beberapa karena kalah bersaing dengan desainer-desainer muda sehingga mengalami penurunan pemasukan dan sisanya karena dibakar oleh oknum yang membencinya. Ketiga, anak haram yang dihasilkan ibu keparat itu, melukai hati ayahnya dengan mendalam dan anak itu diasuh oleh keluarga Nana, bahkan diberikan satu perusahaan untuk anak haram itu.



Dia tahu, dia memang layak menerima itu semua. Layak karena dia menghancurkan hidup para perempuan yang kemungkinan akan menjadi desainer muda, merusak hidup mereka, menguasai, sombong dan bertindak semena-mena. Menurutnya mereka layak untuk menerimanya, tidak ada yang lebih berkuasa darinya. Tidak akan ada.



“Brengsek,” gumam Nana sambil mabuk. Usianya baru sekitar dua puluh dua tahun tetapi wajahnya terlihat lebih tua beberapa tahun dari usianya. Mungkin faktor stress yang menyebabkan Nana seperti itu.



“Nana!” seru Torbjörn Skaarsgard yang merupakan teman pria Nana dan menarik tangan Nana dari satu botol wine yang sebentar lagi akan ditengaknya. “Jangan bodoh! Kau akan mabuk. Kakakmu akan sedih jika mendengar hal ini!”



Nana memang sudah mabuk, dia tidak perlu diberitahu soal itu. Apalagi dengan Torbjorn yang jauh lebih muda darinya, sekitar lima tahun lebih muda darinya. “Diam, bocah brengsek. Tugasmu di sini hanyalah menemaniku. Bukan menceramahiku.”



Torbjorn hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Nana. Wanita ini memang sukses di seluruh Eropa tetapi kelakuannya seperti anak kecil. Dia tahu seharusnya dia diam saja dan tidak ikut campur atas masalah ini tetapi Torbjorn tidak bisa meninggalkan Nana begitu saja. Dia sudah terlanjur sayang terhadap gadis itu sekalipun usianya lebih tua.



“Kalau ada masalah, bicarakan padaku,” kata Torbjorn pada akhirnya ketika Nana sudah sedikit lebih tenang dan memegang pundak Nana. “Aku memang masih anak-anak tetapi aku tahu kamu pasti butuh teman bicara. Bukan begitu?”



“CUKUP! BERHENTI MENCERAMAHIKU!” bentak Nana.



Torbjorn tersedak, Nana memang menakutkan jika sedang marah tetapi selama dirinya menjadi teman pria Nana, dia tahu sisi Nana yang selama ini belum pernah diperlihatkan orang lain. Bahwa Nana adalah orang baik, tidak sekejam seperti apa yang dikatakan orang sekalipun memang benar adanya. Torbjorn bisa melihat kerapuhan gadis itu. Terlihat jelas, bahkan orang bodohpun bisa melihat dengan jelas.



“Baiklah,” ujar Torbjorn lemah. “Kalau sudah kembali normal, aku akan mengajakmu jalan-jalan besok di restoran mewah. Semuanya aku yang bayar. Yang penting sekarang kamu istirahat dulu.”



Tak berapa lama akhirnya Nana tertidur di meja kerjanya dengan penuh pikiran di kepalanya. Otaknya sudah cukup lelah untuk mencerna semua masalah yang ada di sekitarnya. Dia tahu sekarang ini tidak ada jalan keluar. Orang yang dicintainya ketika Nana masih kecil membencinya. Dia tahu itu hanya omongan anak-anak karena kejadian itu terjadi ketika Nana masih kecil tetapi luka di hati Nana sudah terlalu dalam. Sangat dalam sehingga tidak bisa disembuhkan.



Berwald dan ayahnya sangat mencintainya, tetapi tidak begitu dengan ibunya. Ibunya adalah wanita yang gila pesta dan senang bermabuk-mabukan, bahkan hingga melahirkan anak pria lain. Yang terparah, ibunya membunuh ayahnya ketika Nana masih berusia enam belas tahun, meninggalkan Berwald yang saat itu berusia tiga puluh satu tahun dan anak haram yang ditinggalkan ibunya, Tyko Saevas yang saat itu berusia sebelas tahun. Tidak akan pernah Nana biarkan anak haram itu menggunakan nama ayahnya sekalipun ayahnya memintanya. Dia bukan anak Oxenstierna, tetapi dia anak haram, begitu pikir Nana. Ayahnya memang pria yang terlampau baik, bahkan terlalu baik sama seperti kakaknya. Wajah mereka memang kaku tetapi Nana merasa nyaman dan hangat, sekaligus aman.



“Mathias-“



**



Mathias Kohler tidak bisa tidur sama sekali malam itu. Otaknya terus saja memikirkan Nana yang sempat menjadi teman masa kecilnya sekaligus dicintainya. Hingga saat ini, dia masih belum bisa percaya mengapa Nana kini jauh berubah yang pernah dikenalnya. Nana yang di depannya ini bukan Nana yang sesungguhnya. Nana yang pendendam, penakluk, pembunuh sumber daya berpotensi nomor satu dan hingga saat ini Mathias tidak mengerti mengapa.



“Mengapa aku tidak bisa melupakan gadis itu, sial!” gerutu Mathias kesal. “Aku menunggunya hingga sekarang aku sudah berusia pertengahan kepala empat tetapi apa yang kuhasilkan selama ini.”



Mathias masih ingat penolakan gadis itu terhadapnya tiga tahun lalu. Ketika Mathias mengungkapkan perasaannya pada gadis itu. Nana menjawabnya dengan penuh kebencian dan memaki Mathias sebagai pria brengsek tidak bertanggung jawab, bandot tua dan sebagainya. Tetapi Mathias tahu, Nana berkali-kali menyelamatkan hidupnya. Dia tidak pernah bisa lupa ketika Mathias hampir saja dibunuh oleh para saingan bisnisnya dan Nana menolongnya, menggantikan Mathias di posisinya. Yang kedua, ketika Mathias terkena demam berdarah dan nyaris sekarat sementara tidak ada orang yang mau menolongnya, Nana bersedia menemaninya semalaman. Mathias memang tidak pernah menyadari tetapi Erik yang yang memberitahu itu semua. Erik berkata agar dia tidak memberitahukan hal itu pada Mathias. Mengingat itu, hati Mathias terasa perih dan hancur. Nana menyayanginya tetapi selalu berpura-pura tidak terjadi apa-apa.



Apakah Nana memang mencintainya atau tidak? Mathias tidak akan pernah tahu sampai kapanpun tetapi hati Mathias terasa panas dan pedih ketika Nana berkencan dengan Tjorborn yang jauh lebih muda dari Nana sendiri.



“Dia punya banyak pria tampan yang bisa menemaninya,” dengus Mathias pasrah. “Aku Cuma bandot tua.”



**



Keesokan harinya, Nana dan Tjonborn pergi ke sebuah restoran China terdekat, Hari itu Tjornborn terlihat lebih dewasa dengan mengenakan setelan hitam merek Burberry Prosum sementara Nana memakai trench coat pink yang sesuai dengan tubuhnya. Dalam keadaan seperti ini, Nana dan Tjornborn terlihat seperti sepasang kekasih muda.



“Kamu tampak cantik, Nana,” puji Tjornborn.



Nana tidak memperdulikan pujian Tjornborn sedikitpun dan duduk di kursi yang telah disediakan tetapi Nana sama sekali belum ingin memesan makanan sedikitpun. Otaknya masih terasa pening, mengingat Berwald akan berada di sini untuk melamar gadis Finlandia itu. Dia tahu dari Erik yang merupakan adik angkat Halldora Bondevik sekaligus kekasihnya. Miris dan pedih tetapi sesungguhnya Nana merasa pedih mengingat Mathias akan berada di sana juga.



“Mau pesan apa?” tanya pelayan yang berada di dekat mereka. Nana mendengus pelan tanpa menjawab pelayan tersebut.



Tjornborn memaksakan diri tersenyum. “Aku pesankan ya!”



Nana tetap diam saja sampai pada akhirnya pelayan itu mendesak Nana. Tjornborn mengambil alih itu semua karena tampaknya wajah Nana semakin gusar dan bersiap untuk menyembur pelayan yang tidak tahu diri tersebut. “Hei!” seru Tjonborn. “Berani bersikap begitu pada Nana, kalian akan rugi. Kalian tidak tahu siapa Nana!”



Nana terkejut melihat ekspresti Tjornborn yang seperti itu. Mau tak mau Nana tertawa pelan.



“Ternyata kamu galak juga,” ucap Nana tertawa. Tawanya kini lepas, berasal dari dalam hatinya. Tjornborn memang sedikit polos tetapi ternyata bisa bersikap galak dan keras juga.



“Tentu saja,” kata Tjonborn dengan senyuman tulus mendalam. Jantungnya berdebar-debar melihat Nana yang seperti itu. Tjonborn tidak pernah mengerti mengapa dia bisa menyukai Nana. Nana adalah wanita yang berkuasa, sok dan kejam tetapi Tjornborn merasa kagum terhadapnya. Kekaguman itu lama kelamaan bertumbuh menjadi cinta mendalam yang sulit dilepaskan.



**



Berwald berencana untuk melamar Tiina di restoran China tersebut dan dia juga sudah bekerja sama dengan Mathias, Halldora dan Erik agar membantunya, serta mengikutsertakan Tyko Saevas, adiknya. Tiina Vainamoinen adalah seorang gadis muda yang berasal dari Finlandia dan usianya baru sekitar delapan belas tahun. Wajah Tiina terlihat cantik alami karena hanya sedikit dipoles make up dan hari itu dia memakai gaun hijau pendek yang sesuai dengan tubuhnya. Tangan Tiina merangkul tangan Berwald dengan erat.



Hari itu Berwald mengenakan kemeja putih sederhana tetapi terlihat rapi sedangkan Mathias tetap memakai jas kerjanya, mungkin karena pria itu dikejar deadline pekerjaan yang sangat banyak. Perusahaan broadcasting miliknya menuai sukses yang sangat besar dalam kurun waktu sepuluh tahun belakangan ini dan Mathias merasa bersyukur. Jika bukan karena Nana maka dia tidak akan seperti ini.



“Ayo semangat, Beary!” ujar Mathias keras-keras sambil menepuk bahu Berwald.



“Anko uzai,” dengus Halldora kesal. “Beruntung anakku dan Erik sedang ada karya wisata dengan teman-temannya.”



Di sudut kiri, mata Tjonbron terus-terus mengedipkan matanya. Nana awalnya merasa bingung apa yang terjadi pada Tjonborn tetapi karena penasaran akhirnya Nana menegadah ke belakang.



“Bror. Mathias “



**



“PERHATIAN SEMUANYA!” seru Mathias di meja prasmanan dengan lantangnya sehingga membuat seluruh tamu restoran itu terkejut dan mau tak mau memperhatikan meja tersebut. Nana tersedak tetapi matanya terasa perih melihat hal itu. Berwald menggandeng tangan Tiina dengan erat dan wajah mereka bahagia. Nana sudah curiga ada hal yang terburuk, lebih buruk daripada yang bisa dia duga.



“Berwald Oxenstierna pemilik perusahaan raksasa Oxenstierna Ltd. dan Tiina Vainamoinen akan melangsungkan pernikahan bulan depan!” seru Mathias layaknya seperti orang berjualan ikan di pasar. “Berikan applause untuk mereka berdua!”



Semua tamu yang berada di sana bertepuk tangan dan bersorak-sorak. Tiina tersenyum malu dan memeluk Berwald dengan erat. Nana tertohok, syok dan tidak percaya. Apa yang kakaknya pikirkan, gadis itu terlalu muda untuk kakaknya. Apa kakaknya sudah gila, usia mereka berbeda sembilan belas tahun! Dan mengapa anak haram itu berada di sini. Dia harus membuat perhitungan terhadap mereka sekarang juga atau dia yang akan membuat perhitungan itu sendiri. Enak saja mereka menghancurkan hidupnya, tidak akan pernah.



“Brengsek,” dengus Nana sambil membanting sendok garpunya dan beranjak dari kursinya. “Aku mau pergi ke toilet dulu!”



**



“Nana,” sapa seseorang di belakangnya. “Kamu masih ingat aku?”



Nana menoleh ke belakang dan mendapati Mathias berdiri di belakangnya. Mathias tetap tampan walau usianya sudah pertengahan empat puluhan. Semakin bertambah usia, Mathias semakin tampan, batinnya. Tetapi Nana tidak mau berdekatan dengan Mathias. Pria itu cinta pertamanya ketika Nana masih kecil dan pria itu sudah menghancurkan cintanya.



“Ma-mau apa kamu kesini?” tanya Nana gugup. “Kau orang terakhir yang ingin kutemui.”



Tiba-tiba Mathias memeluknya dengan erat. “Aku memang bodoh, tetapi kumohon lupakan Beary. Kamu harus terima kenyataan itu.”



Nana diam dalam pelukan Mathias, rasanya cintanya terhadap pria itu yang pernah tumbuh di hatinya mulai tumbuh kembali. “Aku tidak mau.”



“Tapi kenapa?” desak Mathias dan terus menggengam tangan Nana. “Aku rela kamu bersama pria lain tetapi dengan kakakmu sendiri! Aku sama sekali tidak bisa rela. Tidak akan pernah bisa.”



Nana menatap Mathias dari atas ke bawah dan menepis tangan Mathias yang terus memeganginya. “Maaf, kamu sama sekali tidak mengerti diriku.”



Pada saat yang bersamaan, Tiina dan Tyko menuju ke arah toilet dan mendapati Nana berada di sana dengan wajah rapuh sedang mengobrol dengan Mathias. Mathias menyadari kehadiran mereka dan mohon pamit terhadap Nana.



“Hai, Nana,” sapa Tiina ceria. “Sudah lama tidak bertemu kembali. Bagaimana kabarmu?”



Nana mendengus mendengar sapaan Tiina. “Pasti kalian sangat baik sekali kan,” ujarnya dengan nada kesal. “Ingin menghancurkan hidupku sekarang?”



“Aku tidak berpikir seperti itu, Nana,” kata Tiina sedih. “Mengapa sikapmu terhadapku selalu kasar? Apa salahku?”



“Apa yang kamu lakukan bersama kakakku?” tanya Nana ketus. “Berusaha merayunya agar dia menjadi suamimu dan menghancurkan hidup kakakku.”



Tyko membentaknya. “Jangan bicara seperti itu pada Tiina. Dia tidak tahu apa-apa.”



Ucapan Tyko membuat Nana emosi dan melampiaskan kemarahannya terhadap gadis muda itu. Tanpa sadar Nana mencekik Tyko hingga kehabisan nafas. “Dengarkan aku, anak haram!” bentaknya. “Jangan pernah mempersulit hidupku atau kau akan mati tanpa guna.”



“Nana,” kata Tiina ketakutan dan membantu Tyko melepaskan cekikan Nana. “Hentikan! Kekerasan tidak menyelesaikan masalah.”



Wajah Nana kini seperti orang yang telah dirasuki oleh setan. Dia tidak peduli jika kini dia harus menghancurkan hidupnya. Hidupnya sendiri sudah hancur gara-gara masa lalunya, semuanya merusak hidupnya sedemikian rupa. Dan calon istri kakaknya ini benar-benar menyebalkan. Dia harus mati sekarang juga, dengusnya.



“Kau itu brengsek,” desis Nana sambil mendorong Tiina ke arah lainnya sehingga Tiina terjembab. “Senang menghancurkan hidupku? Kau itu tidak ada apa-apanya dibandingkan denganku. Kau dan ibumu sama, parasit dan sampah. Pembunuh ayahku.”



Dengan segenap tenaganya, Tyko berusaha mengeluarkan kata-katanya semampu yang dia bisa. “Pantas saja Mathias membencimu ketika kamu kecil. Ternyata sikapmu seperti ini-“



PLAK! Tamparan itu dilemparkan pada Tyko berulang-ulang kali dan akhirnya Nana memukuli Tyko, sementara Tiina menatap ngeri pertengkaran dua bersaudara. Tiina harus melakukan sesuatu sebelum semuanya terlambat. Buru-buru Tiina meninggalkan mereka dan mencari bala bantuan.



“BRENGSEK!” serunya sambil menginjak-injak punggung Tyko. “JANGAN BICARA ITU PADAKU! KAU TIDAK TAHU APA-APA! JANGAN KAU KIRA KAU BISA MENDAPATKAN SEMUANYA. PERUSAHAAN OXENSTIERNA. LTD ITU MILIKKU SEMUA. DASAR ANAK HARAM”



Nana benci perkataan itu, benci jika Mathias membencinya. Diam-diam masih tersimpan cinta terhadap pria Denmark tersebut. Nana mencintainya dari dalam lubuk hatinya.



“Nana, kamu lama sekali?” tanya Tjonbron dari pintu keluar.



Nana buru-buru menarik tangan Tjonbron dan berjalan ke arah pintu keluar tanpa menatap Tyko yang sudah terluka parah. “Ayo cepat keluar dari sini. Tempat ini membuatku muak dan sebal!”



“Tapi Nana, makanannya belum dibayar sama sekali.”



“DIAM.”



**



Tiina merasa tidak bahagia malam itu. Seharusnya dia senang karena Berwald melamarnya. Wajahnya kini memucat dan tanpa ekspresi. Terngiang-ngiang kemarahan Nana yang berapi-api, kebencian wanita itu terhadapnya tetapi tidak pernah terpikir bahwa Nana akan menyiksa adiknya sendiri.



“Mana Tyko?” tanya Berwald.



Tiina masih diam saja dan berdoa dalam hatinya agar Tyko tidak apa-apa. Tiina tidak pernah mengerti apa yang terjadi antara Tyko dan Nana. Apakah sesuatu di masa lalu mereka berdua sangat buruk. “Maaf, dia sedang sakit perut.”



“Mungkin dia terlalu banyak makan,” kekeh Mathias dengan ceria. “Namanya juga anak muda.”



“Aku melihat Nana di sini,” celetuk Erik.



Berwald dan Erik saling berpandangan satu sama lain dan wajah mereka berdua menyiratkan sesuatu. Apa mungkin Tyko?



“Nana tidak akan berbuat apa-apa pada Tyko,” ujar Mathias berusaha menenangkan Berwald dan Erik yang wajahnya mulai berubah walau dia sendiri cemas terhadap Nana. “Maaf, aku harus pulang dulu. Banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan.”



**



Tjonborn memejamkan matanya ngeri. Sejak keluar dari restoran, Nana ngebut gila-gilaan dan lepas kendali. Kemarahannya memuncak dan tangannya merah padam.



“Hentikan! Kamu akan membahayakan nyawamu sendiri!”



“Ini belum seberapa,” kekehnya seperti orang gila dan mendadak Nana mengerem sekuat tenaga. “Kalau kamu takut kamu bisa naik taksi saja!”



Tjonborn menggeleng-gelengkan kepala. “TIDAK! Biar aku ikut bersamamu. Aku tidak bisa meninggalkan wanita dalam keadaan susah.



“Kau baik juga,”dengusnya. “Tapi sayangnya aku sampah semata.”



Tjornborn menghela nafas ketika Nana kembali menyalakan pedalnya. “Apa kamu sedang sedih?” tanyanya lembut. “Ceritakan saja padaku.”



Nana diam saja. Di kepalanya muncul bayangan masa lalunya yang begitu suram. Pukulan, penyiksaan, darah, penolakan. Dia berusaha menghilangkannya dengan cara ini. Salah Tjonborn sendiri jika dia mau ikut. Dia sudah menderita, tertindas. Cuma kematian tidak akan bisa mengalahkannya. Bodoh sedkali.



“Nana!” kata Tjonborn tegas. “Semua bisa dibicarakan dan jika kamu ingin aku mendengarkanmu, aku akan mendengarkan. Tidak perlu cara seperti ini.”



Mobil Nana terhenti, tangisan mulai tumpah. Suara Tjonborn mulai tidak terdengar, hanya sayup-sayup.



“Kau perempuan jalang!” bentak Mr. Oxenstierna pada seorang wanita cantik yang merupakan istrinya. “Istri macam apa kau hingga rela menyerahkan tubuhmu pada pria lain. Kau melukaiku dan anak-anak kita.”



Nana kecil yang masuk kamar ingin tidur bersama ayahnya hanya menatap ngeri pertengkaran orangtuanya dari celah pintu.



“Hentikan, Berwald besok harus ujian masuk universitas dan Nana tertidur,” desis Linnea Saevas dengan nada mengancam.



“Jangan bawa-bawa mereka dalam hal ini,” kata Mr. Oxenstierna dengan nada mengancam. “Kasihan mereka jika harus dilibatkan hal ini.



Tanpa basa basi, Linnea menampar pria itu dan mencekiknya. Nana buru-buru masuk ke dalam kamar untuk menolong ayahnya. Pipi ayahnya membiru dan hati Nana sangat hancur melihat hal itu.



“Mama hentikan!” seru Nana sambil berusaha melepaskan cekikan Linnea terhadap papanya. “Kasihan papa!”



Linnea kalap, dia sudah tidak peduli lagi terhadap Nana dan membenturkan Nana ke tembok. Darah mengalir dengan segar. Nana kehilangan kesadarannya.



“NANA!” seru ayahnya. “NANA!”



Nana menangis tersedu-sedu seperti anak kecil. Benci pada dirinya sendiri. Tjonborn mengatur nafasnya agar tidak tegang dan mulai merasa simpati pada wanita itu yang telah hampir membahayakan nyawanya.



“Ma-mathias,” isaknya tanpa sadar.



“Nana,” panggil Tjonborn lembut dan mengelus bahu Nana. “Dia pria yang kamu cintai?”



Sedu sedan Nana perlahan berhenti dan Nana mengangguk pelan, dengan jujur. Tjonbron menawarkan diri untuk menyetir sementara Nana duduk di kursi penumpang. Nana menurut dan Tjonborn senang karena Nana menurut, mengingat kondisi wanita itu. Tjonborn berputar arah ke pusat kota Stockholm yang merupakan tempat Nana tinggal.



“Aku tidak tahu apa yang terjadi denganmu,” ujar Tjonborn lembut. “Kamu tidak sendiri, ada aku.”



Nana diam dan merasakan ada kenyamanan di hatinya. “Tack sa mycket, Tjonborn. Kamu memang anak yang baik. Maaf dan terima kasih.”



Tjonborn tersenyum pada Nana dan tidak mengatakan apa-apa pada Nana. Yang dilakukan pria itu hanyalah menggengam tangan Nana dengan lembut.



Tiba-tiba..



“Awas! Tjonborn!”



Tjonborn kembali menatap ke depan, kaget karena ada mobil dengan kecepatan tinggi sedang mengambil jalur mereka. Ia berusaha banting setir tetapi gagal. Suara benturan keras terdengar, Nana terhimpit sesuatu dan tubuhnya mengeluarkan darah yang amat sangat deras.



“MATHIAS!” serunya dan kehilangan kesadaran.

**

Mathias memutuskan untuk meninggalkan pasangan yang baru akan berumah tangga bulan depan dengan perasaan sedih. Bukan karena Mathias sedih akan keberhasilan Berwald mendapatkan gadis yang dicintainya tetapi lebih karena memikirkan Nana. Mathias sudah terlalu letih untuk mencintai wanita itu. Semuanya akan runyam jika Mathias menerima cinta Nana. Hatinya mengatakan bahwa jika mereka terus berhubungan, ada kemungkinan akan gagal karena sifat mereka terlalu bersebrangan sementara Mathias mencintai gadis itu lebih dari separuh hidup Nana.



Sesuatu mengusiknya, ada firasat buruk yang akan terjadi pada Nana. Hal itulah yang membuat Mathias meninggalkan Berwald dan teman-temannya. Akhirnya Mathias memutuskan untuk menyendiri dulu di bangku taman yang sepi pengunjung serta berpikir sejenak. Dan sebelum Mathias pulang, dia memergoki Tyko yang tubuhnya sedikit lebam dan gaunnya berantakan. Apakah mungkin Nana melakukan penganiayaan terhadap gadis itu atau sesuatu yang lainnya. Dia butuh teman bicara yang bisa mengerti dirinya.



Ya, teman bicara. Akhirnya Mathias memutuskan untuk menelpon salah satu sahabatnya yang berasal dari Norwegia, Kjell dan menemuinya di sebuah taman. Untunglah Kjell sedang tidak sibuk dan bersedia bertemu dengan Mathias. Kjell adalah pria tua yang bekerja sebagai produser di Los Angeles dan kebetulan saja sedang tinggal di Stockholm untuk beristirahat.



“Ada apa, Mathias?” tanya Kjell bingung ketika melihat wajah Mathias yang suram. “Ada sesuatu yang mengganggumu?”



“Mengenai orang yang kucintai. Aku bingung apakah aku harus lanjut atau tidak,” kata Mathias dengan nada tidak yakin. Dia sudah tidak yakin lagi apakah akan berhasil jika tetap berhubungan dengan Nana. Apa dia harus memilih Tyko yang mencintainya dengan tulus tetapi penyabar atau Nana sang penakluk yang kejam.



Kjell menatap Mathias. “Apakah dia berselingkuh atau bagaimana?”



“Tidak, hanya saja tabiatnya sangat buruk,” ucap Mathias kelu. “Dia benci sekali pada adik tirinya dan mencintai kakaknya sendiri tetapi tidak mungkin. Gadis itu berusaha menjegal adik tirinya dengan berbagai cara apapun bahkan menyiksanya baru-baru ini.”



Kjell hanya bisa bernafas panjang, benar-benar kasihan Mathias harus menderita seperti ini tetapi ini sama sekali bukan kesalahannya. Mungkin Mathias salah menyukai orang atau gadis yang dicintai Mathias memang membutuhkan sedikit bantuan. “Kedengarannya memang bukan gadis yang baik tetapi apakah kamu pernah tahu mengapa dia seperti itu?”



Mathias menggeleng lemah. Dia merasa kerdil dan tidak berharga, optimisme yang selama ini dimilikinya menghilang. “Aku tidak pernah tahu. Aku bingung.”



“Dia masih bisa berubah,” Kjell berusaha menyakinkan Mathias. “Dia hanya perlu dibina saja. Aku yakin gadis itu ingin dicintai dengan tulus. Mungkin itu yang dia butuhkan.”



Mathias perlahan-lahan tersenyum. Ya, mungkin Nana bisa berubah jika dibina. Tidak ada alasan tidak bisa. Jika Mathias bertemu Nana, dia akan menyambutnya dengan ramah, seperti ketika Nana masih kecil. Tak berapa lama telepon berdering dengan keras dan Mathias mengangkat telepon tersebut.



“Halo, Kohler di sini.”



“Saya Altberg, pelayan pribadi Nana. Hanya ingin memberitahu bahwa Nana sekarang berada di rumah sakit karena mengalami kecelakaan lalu lintas.”



Mathias kaget dan tanpa sengaja menjatuhkan telepon tersebut, tangannya gemetar dan mengangkatnya kembali dan menanyakan dimana Nana berada.



“Kjell, maukah antar aku ke rumah sakit sekarang?” tanya Mathias dengan wajah tegang. “Ini penting sekali.”



**



Kjell dan Mathias berlari ke lorong rumah sakit. Pada saat yang bersamaan mereka bertemu dengan Berwald, Tyko, Altberg dan Tiina. Tyko terus memeluk Tiina, masih syok dengan kekerasan yang dialami olehnya. Halldora dan Erik sudah pulang terlebih dahulu karena anak mereka harus dijemput.



“Mana Nana,” desak Mathias dan mencengkram Berwald. “DIMANA DIA!”



Berwald terdiam, wajahnya menunduk. Hari ini merupakan hari bahagia sekaligus hari terburuknya yang pernah ada. Tidak pernah Berwald bayangkan jika adik kesayangannya mengalami kecelakaan seperti ini. Berwald menyadari bahwa Nana belum bisa berdamai dengan adiknya sendiri.



“Dia ada di ruang ICU,” kata Altberg pelan. “Kita semua tidak boleh masuk dan harus menunggu di sini.”



Mathias memandang pria tua yang bernama Altberg dengan tatapan aneh. Pria tua itu biasanya tampak bengis tetapi entah kenapa pria tua itu bersedih dan seperti kehilangan majikannya.



“Bagaimana ini bisa terjadi?” tanya Mathias dengan nada serak.



“Mobil Nana mengalami tabrakan di jalan raya dari arah berlawanan. Nana selamat tetapi teman pria Nana meninggal. Bagian depan mobil Nana hancur dan teman pria itu yang mengemudi dan.. tubuh Nana hampir hancur”



Otak Mathias bekerja, mungkinkah teman pria yang dimaksud Altberg adalah Tonbjorn. Ia menekap mulutnya dan air mata membasahi pipi pria itu, tidak pernah dibayangkan jika Nana mengalami hal seperti ini. Ia benar-benar sulit membayangkan kondisi Nana sekarang.



“Ketika dia sempat sadar, dia terus mengucapkan satu kata berulang-ulang. Namamu.”



Mathias terasa lemas, terduduk ke bawah dan wajahnya memucat. Ya Tuhan, mengapa ini semua bisa terjadi. Apa mungkin ini sebuah hukuman.



Tyko memandangi Mathias dengan wajah penuh kasihan dan mendekatinya padahal tubuhnya sendiri lebam dan terpincang-pincang. “Jangan menyalahkan dirimu sendiri, Paman Mathias,” kata Tyko gugup.



“Salahku, semua salahku. Seharusnya aku tidak bertengkar-“



“Dia bertengkar denganku dan Tiina,” hibur Mathias. “Jangan terlalu memikirkan gadis itu. Dia tidak akan apa-apa.”



Tyko memang hebat, dia begitu sabar walau disiksa kakaknya habis-habisan tanpa alasan. Berusaha mencerna perkataan Tyko benar tetapi tidak bisa. Bagaimana jika wanita itu meninggal? Jika itu benar, Mathias tidak bisa memaafkan dirinya sendiri. Kjell benar, Nana masih bisa berubah jika diberikan kasih sayang yang tulus. Tetapi Nana juga hancur sekalipun Berwald mencintainya sebagai seorang adik, kecemburuan itulah yang membutakan Nana. Tetapi Mathias toh mencintainya, tidak peduli masa lalu gadis itu. Jika Nana sadar, dia akan mengatakannya. Lihat saja nanti.



“Anak baik,” ujar Mathias sambil tertawa dan mengelus rambut Tyko. Tawanya tampak dipaksakan tetapi Mathias merasa lebih baik. “Jika itu terjadi, aku lebih baik menjadi bujang lapuk untuk selamanya daripada kehilangan Nana.”



**



Satu minggu kemudian



“Altberg!” seru Mathias ketika Altberg duduk di ruang tunggu. Berwald dan Tyko sudah pulang untuk sementara waktu sedangkan Tiina harus menghadapi ujian akhir setelahnya. “Aku belikan makanan untukmu,” katanya sambil menyerahkan satu bungkusan pada Altberg.



Altberg menerima pemberian Mathias dengan ragu-ragu tetapi toh menerimanya juga. “Boleh aku makan sekarang?”



“Makanlah,” kata Mathias. “Anda layak mendapatkannya.”



Altberg makan dengan lahap dan tidak sampai lima menit makanan tersebut habis. “Terima kasih, makanannya enak seperti makanan hotel. Pasti mahal sekali.”



“Mahal tidak penting sama sekali, yang penting Nana selamat itu cukup,” ujar Mathias dengan tatapan mata yang begitu dalam.



Altberg menghela nafas. “Anda mencintai gadis itu?”



“Amat sangat. Bahkan terlalu mencintainya hingga aku tidak mengerti mengapa aku bisa mencintai wanita seperti itu. Apa aku bodoh dan-“



Altberg tersenyum. “Nana wanita paling baik yang pernah kukenal. Sangat baik, sama seperti kakak-kakaknya. Aku bekerja di sana sejak berusia dua puluh lima tahun dan sekarang sudah empat puluh lima tahun bekerja di sana. Aku tidak mungkin bisa lupa kebaikan keluarga Oxenstierna.”



Hati Mathias tergugah. Altberg pasti mengenal Nana sejak kecil, tidak mungkin salah lagi. Nana memang dikenalnya Mathias sejak kecil tetapi Mathias sudah tidak benar-benar mengenal Nana ketika Nana beranjak dewasa. Ingin rasanya Mathias bertanya mengenai Nana padanya. “Apa yang dia lakukan padamu?”



Pria tua itu terisak. “Nana memarahiku ketika aku terkena usus buntu aku tidak memberitahukan keadaanku dan dia langsung membawaku ke rumah sakit kelas satu.”



“Cuma itu?” tanya Mathias dengan hati lega karena ternyata pikirannya mengenai Nana salah. Dia tentu masih ingat pertolongan Nana untuknya agar dia berhasil, bukan untuk menyuap.



“Dia membiayai semua anak-anakku hingga kuliah dan bekerja di luar negeri dengan gaji tertinggi. Bukan itu saja, dia menyumbangkan banyak uang bagi penderita kanker dan macam-macam penyakit. Tidak ada majikan terbaik seperti dia, sekalipun dia wanita terburuk dalam memperlakukan orang lain terutama perempuan.”



Mathias diam sejenak. “Kalau saya boleh tahu mengapa Nana sangat membenci semua perempuan dan sering menyiksa Tyko?”



“Kita tidak bisa menyalahkan Nana akan hal itu, semua ada alasannya.”



Altberg mulai bercerita dan hasil yang didapatkan Mathias sungguh mengejutkan bahwa Nana mengidap autisme, sesuatu yang tidak pernah diketahui pria itu, dan masa kecil Nana dipenuhi dengan kekerasan dan penyiksaan dari ibu kandungnya sendiri. Ditambah dengan anak-anak perempuan di sekolahnya selalu menganiayanya dan terus berlanjut hingga Nana dewasa. Ketika Nana berusia lima tahun, orangtuanya bertengkar. Perselingkuhan Linnea dengan pria yang lebih muda dari Linnea ketahuan dan membuat Mr. Oxenstierna naik pitam. Pertengkaran tersebut terjadi dan akhirnya Linnea mencekik Mr. Oxenstierna dan Nana berusaha mencegah ibunya tetapi Nana terbentur tembok oleh Linnea.



Tak berapa lama, Linnea melahirkan anak hasil hubungan gelap tersebut yang diberi nama Tyko Saevas. Linnea begitu memuja Tyko bahkan membanding-bandingkan Nana sehingga tumbuh kebencian di hati Nana. Nana mulai bergantung pada Berwald terus menerus tak lama setelah Nana menolaknya dengan alasan bahwa Mathias membencinya. Nana tahu informasi itu berasal dari teman-teman Nana yang sering menyiksanya. Semakin bertambah umur, kebencian di hati Nana semakin besar dan berkembang. Nana sukses dan berhasil, dia menjadi fashion designer termuda pada saat itu sekaligus model.



Belum sempat Nana merasa senang atas keberhasilannya, Mr. Oxenstierna dipanggil Tuhan dan belakangan baru diketahui bahwa Linnea yang membunuhnya. Ia berniat mewariskan perusahaan Oxenstierna.Ltd terhadap Tyko dan tidak menyisakan sedikitpun untuk Berwald ataupun Nana. Sejak saat itu, Nana bersumpah untuk membagi hasil usaha ayahnya pada Tyko bahkan sampai dengan kematian ibunya sendiri.



“Aku tidak mau menyerahkan perusahaan pada anak haram itu. Itu semua jerih payah papa dan Bror,” begitu katanya. “Dia hanya benalu dalam hidupku.”



Mathias terdiam setelah Altberg bercerita. Nana tidak sepenuhnya salah dalam hal ini, bahkan Tyko juga. Mereka berdua hanya mengalami masa lalu yang begitu kelam dan rumit. Tidak seharusnya mereka saling membenci, karena di tubuh mereka mengalir darah yang sama. Tyko mungkin tidak apa-apa tetapi Nana-lah yang paling hancur di antara Berwald dan Tyko. Padahal mungkin Tyko-lah yang harus merasakan seperti itu. Nana merasa pahit hingga menghancurkan seluruh hidupnya. “Tyko tidak mengerti apa-apa bukan.”



“Anda sekarang mengerti bukan bagaimana perasaan Nana terhadap Tyko,” kata Altberg. “Kalau saya pikir, Nana tidak salah sepenuhnya karena Nana membutuhkan perhatian dan tidak mendapatkannya. Hanya kakaknya tempat Nana bergantung. Tyko juga tidak salah dan mungkin Linnea pun tidak salah. Linnea mungkin merasa kesepian karena suaminya selalu sibuk dan kecewa karena memiliki anak yang mengidap autisme.”



Mathias mengiyakan perkataan Altberg. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Nana, apakah kamu baik-baik saja sekarang.



**



Mathias terus memegangi tangan Nana di ruang ICU dengan air mata menetes. Berwald yang juga ikut menunggu Nana akhirnya tidak tega melihat Mathias berwajah seperti itu. Temannya memang sering membuatnya kesal tetapi melihat Mathias yang seperti itu membuat Berwald berubah pikiran.



“Minumlah,” kata Berwald dan mengulurkan satu botol minuman pada Mathias. “Kamu pasti capek.”



“Kamu memang baik, Beary,” ujar Mathias setengah bercanda seperti biasa.



Berwald bisa melihat sorot mata Mathias yang terus memandangi Nana yang terbaring lemah dengan perban. Tatapan itu sama dengan tatapannya terhadap Tiina, tatapan yang penuh cinta mendalam. “Aku yakin dia mencintaimu,” katanya lambat. “Dia-“



Suara Berwald berhenti, digantikan dengan erangan yang dikenalnya.



“Suara apa itu?” tanya Mathias terkejut.



Nana bergerak dari koma dan perlahan-lahan mata Nana mulai terbuka. “Ma-mathias.”



Berwald dan Mathias menoleh. Tetapi Nana berkata,”Minum..”



**



Semua dokter menganggap suatu keajaiban karena ternyata Nana bisa sadar karena dokter mengatakan Nana tidak ada harapan lagi untuk hidup, bahkan sudah mencapai ambang kematian. Nana bisa hidup normal lagi, pikir Mathias senang.



“Ajaib, ternyata anda selamat!” seru dokter itu dengan wajah senang. “Benar-benar mukjizat.”



“Maksud dokter apa?” tanya Nana dengan nada merintih dan berusaha duduk. “Badanku sakit semua karena mobil sialan itu. Dan bagaimana Tonbjorn?”



“Maaf, tetapi pria itu meninggal. Aku benar-benar minta maaf.”



Nana menangis. Tonbjorn begitu baik kepadanya dari awal hingga akhir hidupnya. Pertama kali di dalam hidupnya Nana merasa bersalah menyia-nyiakan orang sebaik Tonbjorn. Seharusnya dia yang mati tetapi Tonbjorn yang mati. Dia bermimpi sesuatu yang aneh. Sesuatu yang mengatakan bahwa dia sebaiknya berubah menjadi lebih baik karena Mathias mencintainya asal Nana mau merubah sudut pandangnya selama ini.



Jika itu jalan keluarnya, Nana akan berubah saat itu juga. Dia sendiri merasa hampa dan sedih mengingat perlakuannya terhadap orang lain begitu keji dan tidak berperasaan yang berimbas pada dirinya sendiri. Perbuatan baik Tonbjorn terhadapnya membuat Nana merasa sedih dan terluka, dia begitu rapuh dan rusak.



“Sudah,” kata Berwald mengelus-elus kepala Nana dan memeluknya. “Tenang.”



“Maaf, tetapi kaki Nana harus dioperasi dengan segera, karena jika tidak Nana harus diamputasi.”



“Apa?”



“Maafkan aku.”



Nana tersenyum kecil. “Jika itu tidak berhasil, langkahi dulu mayatku.”



**



Mathias tersenyum kecil melihat perubahan Nana yang begitu cepat. Apa mungkin Nana bertemu dengan Tuhan sehingga wanita itu berubah seratus delapan puluh derajat. Awalnya Nana merasa canggung berbicara dengan Mathias tetapi setelah diberikan pancingan, Nana akhirnya mau membuka mulutnya untuk berbicara sedikit demi sedikit.



“Mau aku suapi?” tanya Mathias sambil mengaduk-adukan bubur dan mengambilnya dengan sendok kecil.



Nana terkikik. “Aku tidak mau makan-makanan menjijikan seperti itu.”



“Nana.”



“Baiklah,” kata Nana menyerah. “Aku akan makan ini, karena kamu yang meminta.”



Mathias tersenyum puas karena akhirnya Nana mau menurut kepadanya dan menyuapi Nana seperti anaknya sendiri. Mau tak mau Mathias merasa geli melihat ekspresi Nana yang seperti anak yang tidak doyan sayur ketika memakan bubur tersebut. “Kalau sudah sembuh nanti kita makan Smorebrod sama-sama.”



Nana tertawa terbahak-bahak melihat Mathias yang berusaha menyenangkan hatinya dan merasa bahagia karena Nana memang benar-benar dicintai oleh Mathias. Terbukti dari tindakan Mathias yang selalu membuatnya tertawa setiap saat walau beberapa candaannya membuat Nana sedikit kesal.



Tyko dan Tiina yang sejak tadi mengintip mereka berdua akhirnya perlahan-lahan masuk. Mathias yang masih berusaha menyuapi Nana berhenti sejenak untuk menyapa Tyko dan Tiina. “Tyko dan Tiina.”



“Halo,” sapa Nana gugup. Tidak seperti biasanya yang ditunjukkan pada Tyko. Tyko tampak salah tingkah dan menyunggingkan senyuman terbaiknya yang bisa diberikan pada Nana. Mathias tampak sibuk dengan Nana dan tidak fokus terhadap dirinya.



“Aku senang kakak sudah sadar,” ucap Tyko gugup dan matanya memandang ke arah Mathias. Berharap untuk mendapatkan perhatian darinya tetapi gagal sehingga Tyko dan Tiina memutuskan untuk keluar.



Tiba-tiba Nana memanggilnya. “Tyko! Tiina!”



Tyko dan Tiina menoleh dengan pandangan bertanya. “Ada perlu sesuatu?”



“Tolong wakilkan aku dalam perusahaan-perusahaan Bror dan aku. Aku tidak bisa, untuk sementara waktu ini.”



Tyko ternganga. Tidak bisa mempercayai pendengarannya, kakaknya benar-benar berubah setelah koma hampir seminggu.



“Akan kucoba,” kata Tyko pelan.



Nana tersenyum simpul. “Aku yakin kamu lebih mampu dariku. Kamu punya karakter yang bagus. Dan untuk Tiina, jaga Bror baik-baik. Selamat berbahagia untuk kalian berdua. Aku akan datang ke pernikahan kalian bulan depan.”



**



“KALIAN LIHAT!” seru Mathias pada Berwald dan Tyko lalu memeluk mereka berdua dengan erat. “Nana sudah berubah!”



Berwald cemberut dan Tiina terkikik geli melihat ekspresi Mathias yang tampak hidup, mungkin karena Nana. “Lepaskan aku dulu, kambing jelek.”



Mathias melepaskan pelukannya pada mereka berdua. “Boleh aku berbicara pada Tyko sebentar saja?”



Akhirnya Mathias menjelaskan semuanya pada Tyko. Tyko akhirnya mengerti apa yang terjadi sebenarnya dan merasa kasihan pada Nana. Barulah Tyko sadar dan salah menilai kakaknya selama ini.



“Dia begitu tegar dan kuat,” kata Tyko. “Kurasa aku tidak akan mampu seperti dia. Dan apa kamu mau memiliki istri yang memakai tongkat kayu?”



“Kalaupun ya, aku tidak merasa bermasalah. Sudah jelas kan.”



Tyko menatap Mathias dengan tatapan sendu. “Aku mendoakan kebahagiaanmu dan Nana. Anda bisa menjadi penolong Nana dalam keadaan sulit.”



“Terima kasih, Tyko. Kamu anak yang sangat penyabar sekaligus tegas. Banyak pria yang baik menunggumu di luar sana,” kata Mathias tulus.



Tidak ada yang sepertimu, Mathias.



**



Setahun kemudian, hubungan Nana dengan Mathias semakin dekat. Nana banyak berubah dalam setahun belakangan ini. Kaki Nana sudah bisa digerakkan dengan normal. Mungkin persimpangannya dengan maut membuat gadis itu banyak berubah. Mathias akhirnya mengakui perasaan cintanya terhadap Nana dan kesalahpahaman di masa lalu bisa teratasi dengan baik. Usahanya semakin berkembang pesat dan memiliki cabang-cabang di berbagai kota besar tetapi Nana berubah menjadi sosok yang rendah hati dan sering mengajak desainer muda bekerja sama. Permasalahannya dengan perempuan kini sudah diatasi perlahan-lahan berkat bantuan psikiater dan hubungannya dengan Tyko mulai membaik walau masih ada sedikit perselisihan di antara mereka tetapi mereka dengan cepat berbaikan.



Banyak yang berubah selama setahun belakangan ini. Berwald dan Tiina memliki anak perempuan yang sangat mirip dengan Berwald yang dinamai Rin. Mengingat hal itu, mau tak mau Nana tertawa karena putri mereka tidak bisa lepas dari ayahnya, sama seperti dirinya dulu.



Hari itu, Mathias dan Nana berkunjung ke pemakaman Tonbjorn Skarsgaard yang pernah mengisi hari-harinya walau tidak terlalu berhasil , untuk menaruh bunga di sana. Nana merasa bersalah karena menyia-nyiakan hidup pria muda itu yang seharusnya untuk mengejar kesuksesan sekarang ini. Tonbjorn punya masa depan yang begitu cerah seandainya Nana tidak merusaknya.



“Tonbjorn,” kata Nana pelan sambil menaruh buket bunga daisy di sana. “Maafkan aku karena aku selalu seenaknya selama hidupku dan hidupmu. Aku merasa senang atas kebaikanmu. Hanya satu pesanku, berbahagialah di sana.”



Mathias menyela. “Kuakui memang kamu yang berhasil membuat Nana berubah tetapi aku calon suaminya. Mohon doa restunya.”



“HEJ!” bentak Nana merah padam. “Jangan seenaknya.”



Mathias tertawa, hatinya terasa hangat karena telah menemukan kekasihnya kembali. Cintanya yang lama telah hilang. Dengan sigap Mathias memeluk Nana dari belakang dan menempelkan bibirnya ke bibir Nana.



“Jeg elsker deg, Nana.”



Nana tersenyum dan membalas ciuman pria itu. Hatinya terasa hangat dan bahagia, uang dan kesuksesan tidak akan berarti tanpa adanya cinta mendalam. Dan cinta mendalam itu ditemukan dalam diri Mathias seutuhnya. Karena cinta akan selalu ada dalam musim dan bulan kapanpun dan tidak akan pernah mati.



You are my heart, and also the reason why I keep living, why I keep hoping that you give me your love .You are my heart.




-FIN-

No comments:

Post a Comment