Yo Te Amo [Severus Oxenstierna/male! Sve Jr x Luisa/ male!Macau]
Severus Oxenstierna tidak pernah membayangkan kini hidupnya seperti Severus Snape yang ada di dalam kisah Harry Potter. Awalnya berangkat ke Spanyol dengan harapan bisa menimba sukses atau mungkin mendapatkan wanita Spanyol yang cantik, ia malah bertemu dengan wanita keturunan Macau bernama Luisa Fernandez Louriceiras. Luisa sebenarnya cantik dengan rambut panjang hitam sepinggang dan mata coklat hazel yang menatapnya dengan tatapan menggoda.
Tapi demi Tuhan, wanita itu suka menggoda pria manapun. Entah ada alasan apa dia melakukan hal semacam itu. Ia sendiri tidak berani bersikap seperti itu pada wanita, oleh karena itulah ia selalu diejek oleh kakak laki-laki tertua yang bernama Carl dan Jamie, bahkan kakak keduanya yang bernama Katriina sering meledeknya. Sejak saat itu Severus bersumpah pada mereka bahwa sepulangnya dari Spanyol, ia akan membawa seorang gadis cantik. Enak saja mereka bilang ia manusia homo—
—walaupun sebenarnya di Eropa Utara homoseksual itu dilegalkan.
Kembali ke pembicaraan semula. Hampir setiap hari, Luisa selalu mengerjai Severus tanpa alasan. Mulai dari menggodanya, menyembunyikan benda-benda milik Severus dan berbagai macam hal menyusahkan lainnya.
“Ah—maaf aku sama sekali tidak melihatmu,” kata Luisa sombong dengan wajah tanpa dosa menyenggol Severus yang sedang berjalan ke arah pintu keluar suatu gedung. “Pasti sedang mengantri untuk berkencan denganku—.”
Demi Tuhan, Severus tidak akan mau berkencan dengan gadis tukang mempermainkan pria seperti Luisa. Pria manapun bodoh jika mau berkencan dengan Luisa. Pulang-pulang bisa sekarat uangnya.
Mulanya ia selalu menghina wanita Macau itu di dalam hati dan berusaha sabar ketika berada di dekatnya. Selalu bersabar dari tahun ke tahun, hingga pada akhirnya ia perlahan-lahan jatuh cinta pada wanita Macau itu, tanpa bisa dihentikan.
Akhirnya Severus tahu, sisi lembut Luisa. Sisi lembut yang tanpa sengaja muncul ketika berdekatan dengan Severus. Bahwa ternyata Luisa tidak seburuk sangkaannya semula. Luisa adalah wanita penyayang jika hal itu bersangkutan dengan seseorang yang dicintainya. Ia bisa melihatnya betapa ia sangat menyayangi ayah angkatnya dan adik-adik angkatnya, Luisa adalah wanita yang begitu luar biasa.
Senyuman Severus mengembang mengingat sosok Luisa. Hatinya telah mantap untuk memilih Luisa sebagai wanita yang dicintainya seumur hidupnya.
—00—
Ven Conmigo [Carl Oxenstierna/Stockholm x Severina Lorinaitis/Vilnius]
“Hati-hati, itu proyek pentingku!” perintah Carl tegas sambil melirik ke sekelilingnya, berharap papa Berwald dan mama Tiina tidak ada di sekitarnya. “Bereskan sesuai abjad!”
Severina menghela nafas panjang dan membereskan dokumen-dokumen penting yang berada di lemari Carl. Berhubung adik-adik Carl sedang berada di luar kota yang berbeda-beda, mau tak mau Severina harus berduaan dengan Carl selama satu minggu penuh. Ia tahu betapa sentimennya Carl terhadap dirinya, entah dengan alasan apapun, Severina tidak pernah tahu mengapa.
BRAK! Severina menjatuhkan dokumen-dokumen penting yang baru saja diambilnya dari lemari tinggi besar. Wajahnya memucat dan melirik-lirik Carl sejenak, takut jika pria itu akan memakinya. Ia akan terima jika Carl menghukumnya kali ini.
“Dasar bodoh,” dengusnya.
Carl memandangi gadis Vilnius tersebut dengan seksama. Adik angkatnya yang satu ini benar-benar aneh, begitu pikirnya dengan kesal. Belakangan ini saja, Severina selalu membuat barang-barang miliknya terjatuh di mana-mana. Memang salah Carl karena ia menyuruh Severina membersihkan barang-barangnya tetapi Severina tidak tahu bahwa sebenarnya ia melakukan itu agar Severina terus berada di dekatnya.
“Kakak Carl—,” ujar Severina dengan wajah pasrah. “Sebenarnya kamu maunya apa sih?”
“Snivellus,” ucap Carl tanpa memandang Severina. “Diam saja.”
Severina memandang kakak tirinya sejenak dan berpikir mengapa kakaknya selalu bersikap sinis padanya. Wajah boleh mirip dengan ayahnya tetapi sifat mereka benar-benar berbeda jauh dalam hal memperlakukannya. Hati Severina seperti teriris-iris, mengapa Carl begitu membencinya. Apa karena dia adalah anak angkat?
Carl menyadari bahwa ucapannya keterlaluan pada Severina. Pelan-pelan ia menundukkan kepalanya hingga sejajar dengan adik angkatnya dan mengelus-elus kepala Severina dengan lembut. “Ledsen, syster.”
Ledsen. Apa maksudnya kakak ingin minta maaf padaku? T—tapi itu sama sekali tidak mungkin.
Severina terdiam di tempatnya, tidak bisa mempercayai pendengarannya. Tetapi seulas senyum malu-malu muncul di wajahnya. Memberikan senyuman terbaik yang bisa diberikannya pada kakak angkatnya tersayang.
—00—
Quisera Darte [Eirikur Steillson x Jamie Oxenstierna]
Gadis Gotaland itu sudah benar-benar muak dengan sekelilingnya, mulai dengan ayahnya sendiri, kakak-kakaknya yang kurang menghargainya dan adik-adiknya yang menyebalkan. Ditambah lagi dengan lingkungan pergaulannya yang tidak ubahnya sepeti sampah.
Jika ia mau, ia ingin menghajar manusia-manusia yang tidak berguna itu tetapi selalu saja jika ia berhadapan dengan pria Reykjavik, ia selalu gagal dan luluh dalam pesonanya. Pria itu selalu sabar berhadapan dengan gadis itu.
“Jangan begitu lagi, Jamie,” ucap Eirikur pelan dan mengelus rambut Jamie yang sedang berbaring di pangkuannya. “Kekerasan tidak menyelesaikan masalah.”
Jamie mendengus. “Well, mereka yang mulai duluan.”
Eirikur tidak bisa berkata apa-apa pada Jamie lagi, ia sering memperingatkan Jamie soal sifatnya yang selalu mengundang masalah dan juga stress berkepanjangan. Terkadang ia membatin mengapa ia mau saja menjaga anak imbisil semacam Jamie.
“Bukan begitu caranya,” tambah Eirikur lembut. “Bersabarlah pada mereka, niscaya mereka berhenti menganggumu.”
Jamie berang dan terbangun dari pangkuan Eirikur, menatap mata ungu Eirikur tajam. “Baiklah jika kau sama sekali tidak mau membantuku,” dengusnya dan membuang wajahnya ke arah lain.
Eirikur mau tidak mau tertawa geli melihat ekspresi anak dari sahabat baik ayahnya. Ternyata di balik sifat sadisme Jamie, Jamie bisa bersikap seperti orang normal. Ngambek salah satunya—
—benar-benar sesuatu yang layak diabadikan di dalam kamera. Sayangnya ia tidak bawa kamera karena kamera tersebut terlempar di gunung Eyjafjallajökull.
“APA YANG KAU TERTAWAKAN!” bentak Jamie sambil mengulurkan pisaunya ke arah leher Eirikur. Eirikur mundur selangkah, sekali lagi. Tetapi pelan-pelan ia menurunkan pisau yang dipegang Jamie dari jarak satu meter.
“Kau itu perempuan,” ujar Eirikur pelan. “Jangan main-main dengan benda yang membahayakan jiwamu. Aku sama sekali tidak mau.”
Jamie menurut terhadap perkataan Eirikur kali ini. Ia tahu, Eirikur peduli padanya walau ia sering sekali membuatnya kecewa. Tetapi ia tahu Eirikur-lah orang yang paling tidak menyerah terhadap kelakuan sadisnya.
—00—
La Tracalera [Javier Miguel/Tejas x Katriina Oxenstierna/Inari]
“Mau ikutan bermain pistol bersamaku, Katriina?”
Katriina menoleh dan mendengus, Javier Miguel sang pria Texas yang belakangan ini berkunjung ke Swedia bersama-sama dengan sang kakak yang merupakan idolanya, Alfred F Jones. Selama mereka berada di sana, Katriina sering berusaha mencari perhatian Alfred dan hal itu sepertinya membuat Javier sedikit risih. Setiap Katriina mendekati Alfred, Javier selalu mengusilinya.
“Bukan urusanmu, Miguel. Weee—,” ledeknya seperti anak kecil. “Suka sekali menganggu orang lain!”
Javier bersiul-siul. “Cewek kok sukanya main video game sih?”
“Terus kenapa mencampuri urusanku, pria koboi,” ujar Katriina setengah menyindir. “Kapan kau akan dewasa!”
Javier cukup gemas setiap melihat tingkah laku Katriina yang seperti anak-anak. Katriina baru berusia sembilan belas tahun dan ia sangat suka sekali bermain video game, bahkan ia bersikap seperti laki-laki dan sering membuat kehebohan di sekitarnya. Tetapi entah mengapa, Katriina akan sangat cantik jika ia lebih feminin sedikit.
Ah, tapi memang wanita Swedia itu cantik-cantik, terutama di Stockholm. Jika dibandingkan dengan Katriina memang kalah jauh, Katriina kan sukanya main video game, maniak hal-hal yang berhubungan dengan IT dan sedikit serampangan.
Tetapi jika Javier berpikir ulang, Katriina cukup menarik juga. Sebagai seorang tracalera sejati, bukan Javier namanya jika ia tidak bisa menaklukkan Katriina.
-FIN-
**
Tracalera=pengelana
ledsen=sorry

No comments:
Post a Comment