Wednesday, April 20, 2011

Med Dig Bara [Last Chapter]

Last Chapter-Watercolor of Me


Nana masih terdiam di dalam ranjangnya tanpa berani menatap Mathias sedikitpun. Dia sudah lelah dengan kejadian yang selalu saja menimpanya. Belum selesai masalah satu yang dibuatnya kini sudah datang lagi masalah yang lainnya. Seolah-olah Nana tidak diberikan kesempatan untuk hidup tenang.

"Nana," panggil Mathias pelan. "Sudah baikan?"

Nana tidak menjawab satu patah katapun pada pria Denmark itu. Untuk apa Nana menjawab kata-kata pria yang telah membuat Nana patah hati dan terluka karenanya. Nonsense.

"Ja," ujar Mathias. "Kau membenciku?"

"Nej!" bentak Nana. "Bukan urusanmu jika aku membencimu. Kau pria yang menyebalkan yang pernah kutemui. Akan kupanggil Bror untuk-"

Nana terdiam sesaat dan air matanya kembali tumpah. Nyaris saja dia menyebutkan nama kakaknya. Cinta keduanya dan yang paling terdalam. Tanpa sadar Nana terisak-isak di ranjangnya, di hadapan Mathias.

"Benci," isak Nana. "Aku benci padamu, semuanya-"

"Tapi aku tidak benci padamu," balas Mathias. "Aku mencintaimu. Aku tidak mengerti mengapa kamu membenciku. Beri aku alasan, kumohon!" pintanya dan menarik tangan Nana.

Nana merasakan dari nadanya bahwa Mathias serius padanya tetapi Nana juga tahu bahwa Mathias pria yang berisik, selalu seenaknya sendiri, blak-blakan dan berbagai macam lainnya. Dan kekurangan lainnya yang bisa ditulis Nana adalah bahwa Mathias seorang pedofil sejati karena dia berteman dengan teman-teman Nana yang Nana paling benci. Jadi, menurut Nana, Mathias tidak layak dipercaya. Bukankah ketika Nana kecil, Mathias mengatakan pada temannya (atau lebih tepat musuh beratnya) bahwa dirinya membenci Nana. Anak kecil tidak pernah berbohong dan Nana mengerti hal itu.

"Lepaskan aku, pedofil!" seru Nana, menepis tangan Mathias dan terbangun dari ranjangnya dengan posisi duduk. "Aku tahu semuanya, kau membenciku setengah mati."

"Nej! Aku tidak punya alasan untuk membencimu. Sama sekali tidak ada!" balas Mathias dengan nada terkejut. "Darimana kau mempunyai ide seperti itu?"

"Kau pedofil," semburnya sekali lagi. "Jangan bilang kau bilang pada teman-teman kecilmu yang notabene musuhku selama aku sekolah jika kau membenciku. Bedebah!" rutuknya.

Nana tidak mau mengucapkan kata-kata itu di depan Mathias jika dia bisa, terutama alasan Nana menjauhi Mathias. Nana takut jika hal itu memang benar adanya. Rasa sakit hatinya tidak tertahankan. Nana benci jika teman-temannya merebut perhatian dari orang-orang yang Nana sayangi. Nana merasa kehilangan dan terancam.

Mathias duduk di samping Nana dan mengecup pucuk kepala Nana perlahan dan menarik Nana ke dalam pelukannya. "Aku tidak benci padamu, dia bohong. Yang benar mungkin dia cemburu padamu."

"Buat apa dia cemburu padaku?" tanya Nana dengan wajah memerah ketika berada di pelukan pria Denmark tersebut. Tubuhnya serasa menegang seperti tersengat aliran listrik yang tidak pernah padam.

Mathias masih tetap memeluk Nana. "Kau cantik sekali," ujarnya setengah meracau. "Lebih dari yang kubayangkan."

"Te-tentu saja," jawabnya gugup. "Ka-ka-karena aku seorang artis."

Mathias mendekatkan wajahnya ke wajah Nana secara perlahan-lahan. "Aku tidak menganggapmu seorang artis tetapi seorang wanita seutuhnya. Seorang wanita yang terlihat cantik untukku. Hanya dirimu seorang."

Nana ingin tertawa mendengar pengakuan Mathias tetapi Nana menahan dirinya. "Aku sudah dengar macam-macam rayuan gombal dari para fans," ujar Nana sombong tetapi wajahnya kini berwarna merah muda. "Tapi-"

Kata-kata Nana terputus dan wajahnya memerah bagaikan tomat rebus.

"Tapi apa?" tanya Mathias perlahan.

"Senang mendengar kata-kata itu darimu. Sungguh di luar dugaanku," katanya gugup dan berusaha menyembunyikan rasa senangnya karena Mathias ternyata tidak membencinya, hanya kesalahpahaman semata serta ketololan dirinya sendiri. "Maafkan kata-kataku yang sebelumnya."

"Ja," jawab Mathias tertawa. "Kau manis sekali. Tidak berubah sejak kau kecil. Dan kau sempurna di mataku."

Nana menjentikkan hidung Mathias dan nyengir. "Jangan berkata gombal, aku tidak suka."

Mathias dan Nana terdiam dan memandangi satu sama lain. Beberapa saat kemudian keduanya tertawa.

"Kau bisa tertawa lepas juga,ya?" ujar Mathias dengan wajah yang pura-pura terkejut.

"Tentu saja!" seru Nana kesal.

Mathias berdiri dan mengelus rambut Nana dengan lembut. "Sepertinya kamu sudah sehat," ujarnya lembut. "Aku akan pulang dulu dan jaga dirimu baik-baik."

Nana mengangguk dan Mathias pamit pulang serta berjanji akan mengunjungi Nana lagi jika Nana menginginkannya bahkan Mathias sempat mengingatkan Nana untuk lebih fokus pada ujian nasionalnya ketimbang dunia entertaimennya.

"Aku tidak akan seperti itu," ujar Nana sambil mengikuti Mathias ketika Mathias berjalan ke arah pintu keluar. Ada rasa sepi ketika Mathias pamit pulang tetapi toh besok Mathias masih bisa mengunjunginya lagi.

Anehnya Nana merasa seperti itu lagi, setelah sekian lama.

"Mathias," ucap Nana lirih tanpa Nana sadari, wajahnya memerah.

***

Tiga minggu berlalu dan sejak saat itu, hubungan Nana dan Mathias semakin dekat dan akrab. Sikap Nana yang awalnya kasar terhadap Mathias mulai berubah perlahan-lahan. Perasaan Nana terhadap Berwald mulai pupus perlahan-lahan seiring dengan waktu dan fakta yang sebenarnya muncul belakangan ini walaupun hati Nana masih terasa sakit melihat Berwald dan kekasih Finlandia-nya beromantis-romantisan ria di rumahnya. Sore itu, setelah ujian nasional selesai dilaksanakan, Nana berkunjung ke rumah Mathias yang mewah hanya sekedar ingin tahu keadaan Mathias dan apa reaksinya jika dia berkunjung ke rumahnya. Yeah, selama ini memang Mathias yang sering mengunjungi Nana tetapi sesekali Nana ingin mengunjunginya. Setengah berharap Mathias sedang tidak ada di perusahaan hari itu karena Mathias adalah pria yang mapan dan jarak usia mereka lebih cocok untuk usia ayah-anak. Semakin Nana memikirkan mengapa Mathias mencintainya padahal Nana masih anak-anak membuat Nana semakin pusing karenanya.

Kira-kira dia akan bilang apa kalau aku muncul di depan rumahnya. Apa dia akan senang atau kecewa?

Sesampainya di rumah Mathias, dengan gugup Nana memencet bel yang ada di sana. Beruntung reaksi Mathias tidak terkejut melihat kedatangan Mathias melainkan sangat antusias melihat Nana berada di depan pintu rumahnya. Dengan spontan Mathias memeluk Nana hingga Nana sesak nafas.

"NANA, JA~!" seru Mathias dengan riang seperti bapak-bapak yang memiliki anak kecil. "Bagaimana ujianmu?"

Nana bersemu merah ketika Mathias tiba-tiba memeluknya. "Cukup baik," jawab Nana dingin dan menyembunyikan kegembiraannya di hati yang terdalam. "Soalnya terlampau mudah untukku."

"Dasar bocah," ledek Mathias sambil menjitak Nana.

Nana berjengit. "Diamlah! Aku serius dengan perkataanku sendiri."

"Tidak lulus baru tahu rasa kau," sindir Mathias dengan nada bercanda.

"Tidak akan, weee!" balas Nana dan menjulurkan lidahnya seperti anak kecil berusia empat tahun. "Aku sudah belajar keras selama ini."

"Tetapi kau selama ini tidak teratur pola belajarnya," Mathias membalas Nana. "Seringkali kau tidak masuk sekolah.

Nana terdiam, kata-kata Mathias barusan tanpa sadar menusuk hatinya. Memang benar selama ini Nana jarang masuk sekolah karena karirnya. Tetapi alasan sebenarnya Nana jarang masuk sekolah adalah karena Nana lebih takut berada di sana. Sekolah merupakan kenangan buruk bagi Nana. Nana benci dimana ketika Nana dikucilkan dan dijauhi. Benci karena harus bertemu dengan adiknya yang selalu menghinanya sedemikian rupa. Seribu satu kata dijabarkan betapa Nana membenci hal tersebut.

"Maaf," kata Mathias tiba-tiba ketika melihat ekspresi Nana yang tiba-tiba berubah muram. "Aku tidak bermaksud menghinamu," tambahnya.

Nana memaksakan seulas senyum di wajahnya. "Ya, aku tahu dan sangat mengerti."

Mathias tidak percaya dengan kata-kata Nana dan mencerna kata-kata Nana sedikit demi sedikit. Sejauh yang bisa dipahaminya. Sebagai gantinya Mathias bertanya pada Nana hal yang lainnya.

"Lalu setelah lulus rencana ingin kemana?" tanya Mathias penasaran. "Apa kau tidak ingin kuliah?"

"Kenapa aku berpikir seperti itu?" tanya Nana dengan nada heran. "Yang ada aku ingin mundur dari dunia entertaimen. Buatku hal itulah yang membuatku hancur dan terjerumus."

Mathias terkejut mendengar perkataan Nana. "Kenapa kau menghancurkan apa yang kau bangun. Dan kau serius akan hal itu?"

Jelas Nana sudah memikirkannya dengan matang. Bagi Nana kepuasan batin yang benar-benar dirasakannya ketika dia bekerja di belakang layar dan bukan di atas panggung. Rasanya luar biasa ketika buku pertamanya diterbitkan dan mendapatkan penghargaan tetapi Nana tidak punya banyak lagi kesempatan untuk melakukannya karena kesibukannya. Pekerjaan itu membuat Nana merasa tidak berarti dan hampa. Nana capek jika harus tersiksa dan merasa tidak bahagia. Dia sudah dewasa, dia tahu harus memilih jalan hidupnya sendiri. Panggilannya yang sesungguhnya.

Nana terkekeh pelan. "Lebih baik jadi manusia biasa dibandingkan sukses tetapi memiliki hati yang beku. Aku sudah memikirkan sejak setahun yang lalu. Dibandingkan menjadi model dan pemain film, aku justru menemukan kepuasan batin ketika aku yang turun tangan di dalamnya, maksudku berkreasi di dalamnya."

"Aku pernah melihat bukumu diterbitkan dan kau sangat menjiwainya, Nana. Potensi di dalam dirimu sungguh luar biasa. Kau berbakat di banyak bidang,yang tidak orang lain punya," kata Mathias jujur. "Aku tidak memuji tetapi itulah faktanya."

Senyuman Nana mengembang di wajah cantik alaminya. "Terima kasih kau menyadarinya," ujar Nana dengan penuh ketulusan. " Aku sungguh senang sekali karena kau mau memahaminya."

Mathias menutupi wajahnya yang memerah dengan salah satu tangannya. "Ya Tuhan," rutuknya. "Sejak kau kecil kau selalu membuatku memerah seperti ini. Apa salahku-"

"Pesonaku terlalu kuat," jawab Nana sambil tertawa lepas. "Bahkan kau terpana padaku."

Sayangnya Nana benar dan Mathias tidak berani bicara banyak lagi mengenai itu. Mengumbar cinta pada Nana saja membuat Mathias salah tingkah. Mathias masih menutupi wajahnya dengan tangannya.

Diam-diam Nana tersenyum geli melihat ekspresi Mathias yang seperti itu. Itu berarti Mathias benar-benar mencintainya. Lagipula siapa yang bisa mencintai dirinya sejak Nana kecil, walaupun ada kesalahpahaman, Mathias tetap mencintainya. Ketika Nana mulai suka berganti-ganti pasangan kencan, Mathias tetap menunggunya bahkan sabar menghadapinya. Bukankah bukti itu sudah cukup bahwa pria itu benar-benar mencintainya setulus hati. Dan bodohnya, gadis itu tidak menyadarinya. Terpaku dengan kekurangannya sendiri.

"Maafkan aku," ujar Nana lembut dan menurunkan tangan Mathias perlahan. Tetapi sesaat Nana mundur sejenak dan memandangi Mathias dari atas dan bawah dengan jarak sedekat ini. Mathias sangat rapi dengan kemeja putih dan celana panjang hitamnya. Tubuhnya wangi aroma aftershave. Nana menyentuh telapak tangan kiri Mathias dan melepaskannya kembali lalu membalikkan badannya dengan wajah memerah.

Mathias menyadari perubahan sikap Nana yang terlalu tiba-tiba. "Mengapa berhenti, min elskede?"

"Tidak apa-apa," jawab Nana gugup. "Aku tidak mengerti perasaanku sendiri. Hanya terlalu-"

Kata-kata Nana terputus. Mathias menjeratnya seperti ini, tanpa dia sadari. Cinta lamanya tumbuh kembali seperti ketika Nana masih kanak-kanak. Tetapi perasaan ini sangat kuat.

"-terlalu banyak masalah aneh-aneh," Mathias melanjutkan perkataan Nana.

**

Semakin hari perasaan Nana terhadap Mathias semakin kuat, bahkan rasa cinta ini terlampau kuat dibandingkan ketika masa kanak-kanak. Cintanya terhadap Mathias jauh lebih besar daripada cintanya terhadap Berwald. Keakraban mereka beberapa bulan belakangan ini adalah penyebabnya.

Nana sudah benar-benar memikirkannya selama empat bulan ke depan untuk keputusannya sendiri. Kini Nana sudah lulus dari SMA dan Nana sudah memutuskan untuk tidak kuliah selama setahun untuk benar-benar merenungkan segala sesuatunya. Keputusan Nana untuk mundur dari dunia hiburan sudah tidak bisa diganggu gugat. Dan Nana sudah mengumumkannya di media pers beberapa hari yang lalu.

Ruang hotel itu berisi wartawan-wartawan yang datang. Wajah para wartawan tersebut tampak tegang dengan kabarnya Nana akan mengundurkan diri dari dunia keartisan dan Nana mengadakan konferensi pers untuk memperjelas semuanya. Wartawan yang hadir di sana, dari berbagai belahan dunia, berharap-harap cemas. Mereka tahu bagaimana reputasi Nana di dunia hiburan tetapi mereka tidak bisa melepaskan kekagumannya terhadap prestasi Nana yang luar biasa.

Hari itu Nana mengenakan trench coat berwarna merah muda dengan sepatu boot coklat dan wajahnya tanpa riasan sedikitpun dan rambutnya digelung ke belakang membentuk onde-onde besar tetapi menarik dan terlihat manis. Dan sesuatu yang jarang dilakukan Nana adalah bahwa Nana mengenakan kacamata yang sedikit besar. Nana terlihat gugup ketika berjalan ke atas panggung, bahkan beberapa kali Nana nyaris menabrak sesuatu.

Ruangan itu mulai ramai dengan suara ribut-ribut yang ditimbulkan oleh para wartawan ketika akhirnya Nana membuka mulutnya untuk bicara. "Maafkan aku untuk segalanya dan semuanya," katanya dengan nafas panjang. "Mungkin ini sangat berat tetapi jika aku terus berada di duniaku, aku semakin tersiksa dan hampa-"

Para wartawan tampak bingung dengan perkataan Nana tetapi mereka bisa merasakan ada firasat buruk dari perkataan Nana. Maka salah satu wartawan memberanikan diri untuk bertanya pada Nana."Apa maksud anda?"

"Aku akan mundur dari dunia hiburan," kata Nana tegas, dengan sorot mata yang tajam. "Dunia hiburan sama sekali tidak membuatku bahagia dan aku menemukan apa yang menjadi kepuasan batinku pada saat ini karena aku memulainya hanya untuk balas dendam. Tetapi seiring dengan waktu, aku menemukan duniaku yang sebenarnya. Dunia yang lebih sesuai untukku, menulis naskah cerita bersambung dan mendesain. Kuharap kalian mengerti bahwa aku tidak bermaksud mengecewakan hati para penggemarku tetapi mereka juga akan kecewa jika tahu selama ini aku tidak bahagia di dunia hiburan."

Para wartawan terkejut dengan jawaban Nana dan berusaha mencerna pernyataan Nana sambil berharap perkataan Nana hanya lelucon belaka. " Benarkah apa yang Anda katakan?" tanya salah satu wartawan yang tidak jauh berada di dekat panggung. "Apa keinginan Anda setelah anda mundur dari dunia hiburan?"

Nana tersenyum pada semua yang hadir,senyuman yang tulus yang benar-benar dia bisa berikan pada orang lain. " Tentu saja aku benar adanya, selama ini aku sudah memikirkannya. Aku ingin bekerja di belakang layar. Karena di sana peranku lebih besar dan aku merasa seperti gadis normal seperti umumnya."

"Apa Anda tidak menyesal, setelah lima tahun kesukesan Anda?"

Nana sama sekali tidak menyesal, justru banyak hal yang disesalinya ketika Nana menjadi artis dan bersinar. Nana terjerumus dan terikat, mulai sering mabuk-mabukan di usia yang tergolong muda dan reputasinya semakin buruk. Nana ingin berubah dan memiliki kehidupan yang baru.

Berita mengenai mundurnya Nana dari dunia hiburan sungguh disayangkan oleh para penggemarnya dan berita bagus bagi teman sesama artisnya karena saingan mereka berkurang. Nana sama sekali tidak peduli akan hal itu, dia sudah menemukan kebahagiaannya sendiri. Selama Nana berada di sana, Nana akan menjadi pribadi yang kejam dan tidak berperasaan serta menutupi sifat baiknya sendiri yang terpendam. Berada di sana hanya membuat Nana semakin tersiksa. Karena Nana dikenal sebagai artis yang multitalenta sekaligus berkepribadian buruk karena sering menyiksa artis-artis perempuan pendatang baru serta kebiasaannya mempermainkan pria.

Nana ingin berubah, ya, dia ingin berubah. Dulu dia seperti itu karena tidak mempunyai pegangan, merasa tidak dicintai tetapi tidak menyadari jika selama ini dia dicinta sepenuh hati oleh orang yang Nana kira membencinya. Setelah ini, Nana berjanji untuk berdamai dengan Freyja yang selama ini dia siksa karena balas dendam di masa kecilnya. Nana tahu itu tidak mudah tetapi Nana akan mencobanya.

Selain itu, sudut pandang Nana terhadap Mathias dan Berwald mulai berubah sedikit demi sedikit. Nana mulai bisa mengontrol perasaannya sendiri terhadap Berwald dan tidak cemburu lagi pada Tiina. Lagipula mereka akan berkeluarga dan mereka sendiri sudah memiliki calon anak dan Nana akan senang hati menemani anak mereka bermain jika sudah lahir.

"Tampaknya kau menikmati hidupmu sendiri?"

Nana menoleh dan mendapati Mathias Kohler berdiri di belakangnya. "Eh, mengapa kau ada di sini?" tanyanya gugup.

"Tidak apa-apa," jawab Mathias pelan. "Hanya merasa kamu tidak bisa ditinggal sendiri untuk sementara waktu."

Mendengar perkataan Mathias, wajah Nana memerah lebih merah dari biasanya. Tubuhnya sama sekali tidak bisa bergerak dari tempatnya. Kata-kata Mathias membiusnya seperti penyihir tampan yang tiba-tiba datang dihadapannya.

"Kau tidak suka kehadiranku, min elskede?" goda Mathias dengan nada genit sambil berbisik pelan di telinga Nana. "Aku sudah jauh-jauh datang ke sini lho."

Nana menarik nafasnya sejenak dan menahan seluruh kegembiraannya di depan Mathias. "Well, aku senang kau ada di sini. Tapi aku minta satu hal!" pintanya dengan wajah datar. "Aku menyukaimu, puas!" ucapnya tanpa sadar.

Nana menutup mulutnya sendiri. "M-ma-maksudku a-a-ku suka padamu sebagai seorang teman. Itu saja."

Mathias terpana melihat kekasih hatinya bersikap seperti anak kecil yang salah tingkah. Tanpa sadar Mathias tertawa terbahak-bahak.

"HAHAHAHAHAHAHA-"

Nana tidak sempat merutuki Mathias dan merasa malu dengan pengakuan cintanya secara tiba-tiba. Tetapi dia sudah setengah jalan walau Nana tidak yakin akan berhasil.

"Mathias," panggil Nana sambil mengenggam tangan Mathias yang dua kali lebih besar dari Mathias. Nana menegadahkan kepalanya agar bisa bertatapan dengan mata Mathias. “Aku serius.”

Biru kehijau-hijauan bertemu dengan mata coklat. Mathias tidak bisa berhenti memandangi mata Nana. Kini Nana menatapnya dengan tatapan penuh damba.

“Serius yang bagaimana?” tanya Mathias untuk menguji Nana apakah dia tidak salah dengar. “Serius menyukaiku sebagai teman?”

“Tidak, tetapi aku mencintaimu,” jawab Nana pelan. “Aku menyukaimu sejak aku masih anak-anak, tapi karena-“

Kata-kata Nana terputus dan Mathias menyentuh bibir Nana dengan bibirnya. “Cukup, tidak usah dibahas lagi,” kata Mathias pelan. “Aku juga mencintaimu dengan sepenuh hati.”

Nana tidak menjawab apapun lagi. Kini hatinya sama sekali tidak ragu dan sudah mantap. Hanya Mathias seorang yang selalu ada dipikirannya.
Sampai kapanpun juga.

Cerita cinta ini baru saja dimulai.

FIN

A/N Akhirnya saya kerjain selama satu minggu lebih dan idenya baru nongol. Kali ini lebih panjang dan maaf saya tidak memunculkan karakter lainnya. Alurnya terkesan kecepetan ya? Anyway, thanks bagi yang sudah mau review FF saya yang di chapter sebelumnya. Hasta Luego :P

No comments:

Post a Comment