Betapa Nana membenci adik barunya yang baru saja dilahirkan oleh ibunya, Freyja. Dulu sebelum Freyja lahir, kakak-kakaknya dan orangtuanya sangat memanjakannya bahkan cenderung memberikan perhatian berlebih pada Nana.
Tetapi sejak Freyja lahir, semua seperti menganggap Nana tidak ada. Nana yang baru berusia empat tahun tersebut merasa terabaikan oleh keluarganya. Setiap Nana meminta sesuatu pada orangtuanya dan kebetulan adiknya meminta hal yang sama, pasti adiknya yang akan diutamakan. Lupa bahwa Nana masih butuh kasih sayang yang berlebih dari orang-orang di sekitarnya mengingat hubungan sosial Nana di TK sangat buruk, terutama terhadap anak perempuan. Nana membutuhkan sandaran dan orang yang mau memperhatikannya.
Hari itu, Nana menangis sendirian di kamarnya dan pada saat itu orangtuanya sedang tidak ada di rumah karena mengajak Freyja jalan-jalan ke luar kota sedangkan Nana dititipkan pada Berwald. Petir menyambar di luar rumah dan Nana takut petir dan suara guntur menakutkan Nana.
Malam itu Nana meringkuk di selimutnya dan menangis tersedu-sedu mengingat kejadian tadi siang.
“Mama! Papa!” seru Nana sambil menatap Freyja. “Boleh aku ikut?”
Pasangan suami istri Oxenstierna saling pandang, lalu ganti menatap Nana. “Besok kamu sekolah, lain kali saja, ya.”
Air mata Nana menetes deras. “Pokoknya aku mau ikut. Aku mau ikut ke Kalmar dan Skane. Aku belum pernah ke sana.”
Mr. Oxenstierna menatap Nana dengan tatapan lembut. “Sekolahmu lebih penting daripada apapun. Nanti liburan panjang, Papa dan Mama akan mengajakmu jalan-jalan bersama dengan kak Berwald,” tambahnya. “Lihat, kak Berwald juga tidak ikut karena sedang ada tugas dari sekolahnya.”
Nana menatap Berwald yang sedang menemani anak kecil yang berasal dari Finlandia yang seumuran dengan Nana dengan tatapan kesal, maka semakin marah mendengar perkataan ibunya lalu menyambit ibunya dengan balok kecil sambil . “JAG HATAR DIG SA MYCKET!” serunya lalu meninggalkan mereka sambil menangis.
Mrs. Oxenstierna tampak terkejut akan perlakuan Nana yang seperti itu. Berwald dan anak kecil Finlandia yang dititipkan tetangga tersebut menatap kejadian tersebut dengan tatapan terkejut. Anak kecil Finlandia itu lalu menarik-narik lengan Berwald. “Ada apa? Mengapa gadis itu terlihat marah pada ibu itu?” tanyanya dengan nada polos.
Berwald tidak tahu harus berkata apa pada anak kecil Finlandia itu, lalu pada akhirnya dia berkata. “T”na j’ng’n t’k’t, d’ b’k k’k. H’ny’ s’d’ng k’sal.”
Anak kecil Finlandia yang bernama Tiina tersebut hanya mengangguk kecil. Entah mengerti apa yang terjadi sebenarnya atau tidak mengerti perkataan Berwald.
Nana kesal dan memukul-mukul kasurnya lalu meraung-raung. “Karena dia semua berantakan,” jeritnya. “Aku benci dia. Sangat benci.”
Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, Nana merebahkan dirinya ke kasur dengan kekecewaan mendalam. Tak berapa lama petir menyambar dan suara guntur lebih kencang daripada yang sebelumnya.
Wajah Nana memucat dan menjerit sekeras mungkin. Tubuhnya gemetar dan kepalanya mendadak pening. Nana merasa sendirian, tidak aman dan terancam. Tidak ada Papa dan Mama yang menjaganya, ataupun kakak Berwald. Kakak Berwald pasti sedang sibuk dengan anak tetangga yang berasal dari Finlandia tersebut. Hidup ini memang tidak adil, batin Nana. Semuanya berubah.
Tiba-tiba seseorang datang ke kamar Nana dan menggendong Nana lalu memeluknya dengan erat. Nana menoleh dan mendapati Berwald berada di sampingnya.
“Kakak!” seru Nana dan menangis. “Jangan tinggalkan aku!” kata Nana dengan nada memelas. “Jangan lupakan aku.”
Berwald sudah curiga akan sikap Nana yang aneh sejak kelahiran Freyja. Untung saja Tiina sedang tertidur di ruang tamu karena kelelahan bermain bersamanya sehingga Tiina tidak mendengar jeritan Nana. Lalu Berwald kembali menatap Nana dengan tatapan sayang sembari memeluk Nana. “T’d’k ada y’ng m’lup’k’nm’, min kärlek.”
“Kakak Berwald,” isak Nana. “Aku takut, semua tidak sayang padaku.”
Berwald memeluk Nana dengan erat. “K’kak d’s’n’, j’ng’n t’k’t.”
“Kakak tidak sayang aku,” raung Nana sambil memukul-mukul dada Berwald. “Aku ingin dia lenyap dari hadapanku. Dia merebut segalanya-“
Nana terisak-isak dalam dekapan Berwald sementara Berwald menenangkan Nana. Tampaknya Berwald mengerti apa yang dialami Nana. Maafkan aku, Nana. Aku lupa kalau kamu masih perlu diperhatikan. Kakak janji akan cepat menyelesaikan kuliah agar kakak memiliki waktu untuk mengajakmu jalan-jalan.

No comments:
Post a Comment