Seorang gadis kecil yang berusia sekitar empat tahun berusaha menarik lengan baju seorang pria dewasa muda yang sedang sibuk membaca buku. Pria itu tidak menyadari kehadiran gadis kecil tersebut sehingga gadis kecil itu berusaha untuk meraih tangan pria dewasa tersebut.
“Mathias!” seru gadis kecil itu dengan nada riang. “Aku disini.”
Pria yang dipanggil Mathias tersebut barulah menyadari bahwa sejak tadi gadis kecil itu memanggilnya. Matanya yang sejak tadi terfokus dengan buku Geologi miliknya sejenak teralihkan. “Ada apa, Nana kecil?” tanya Mathias ramah dan mengecup pipi gadis kecil tersebut.
Pipi Nana memerah dan kedua tangannya dipindah ke belakang seolah-olah menyembunyikan sesuatu. “Aku hanya ingin memberikan sesuatu pada Mathias.”
“Oh ya?” tanya Mathias pelan. “Apa itu?”
Perlahan-lahan Nana mengeluarkan satu tangkai bunga mawar merah dan mengulurkan bunga tersebut pada Mathias. “Jag älskar dig, Mathias.”
Mathias tidak bisa berkata apa-apa, nafasnya tertahan. Yang bisa dilakukannya adalah memeluk Nana dengan erat seraya mengelus kepala Nana yang mungil.
Jeg elsker deg, Nana.
Med Dig Bara [With You Only]
Chapter 01-Mathias PoV
Mathias tidak akan pernah melupakan betapa marahnya Berwald terhadapnya, tidak akan pernah bisa. Baru-baru ini, Nana sengaja mengerjainya dan melontarkan tuduhan yang tidak berdasar terhadapnya. Begitu Mathias bertanya apa alasan Nana berbuat seperti itu, Nana sama sekali tidak bisa menjawab satu patah katapun dan tubuhnya mendadak kaku. Ini sangat membingungkan bagi Mathias. Memang awalnya Mathias yang salah, karena Mathias yang menggoda Nana terlebih dahulu dan sialnya Nana salah paham. Nana yang ketakutan, entah memang benar ketakutan atau hanya berpura-pura saja, langsung mengadu pada kakaknya yang seram tersebut. Keesokan harinya, Berwald mendatangi tempatnya dan langsung menghajar Mathias.
Dalam pikiran Mathias, mengapa semakin hari kelakuan Nana semakin buruk saja. Padahal ketika Nana masih kecil, Nana selalu mengikuti kemanapun Mathias pergi. Bahkan terkadang Berwald harus menyeret Nana pulang, tidak peduli Nana akan menangis meraung-raung.
Hal itu terus berlangsung hingga Nana memasuki kelas empat SD. Nana berubah drastis, dia berubah menjadi sangat kasar terhadap Mathias. Sikapnya terhadap Mathias sangat tidak sopan dan cenderung kurang ajar. Ingatannya menuju ketika pertama kali Nana memperlakukannya dengan begitu kasar.
***
Nana sedang berjalan ke rumahnya dengan perasaan kecewa. Hari itu sangat buruk baginya, semua terasa gelap dan menyedihkan. Kedua tangannya menutupi wajahnya dan air mata membasahi wajah Nana. Tubuhnya memar dan rambutnya terlihat acak-acakan.
“Dia tidak menyayangimu. Orang itu cerita padaku sendiri!”
“Bohong!”
“Tentu saja, kau itu virus di tempat ini.”
Tangisan Nana pecah setiap mengingat apa yang baru saja dia alami. Tidak berani mengadu pada kakaknya ataupun siapapun.
Sementara itu, Mathias yang kebetulan berjalan kaki dan berpapasan dengan Nana. Dia tidak menyadari Nana sedang menangis dan Mathias spontan memeluk Nana dengan erat.
“Halo, min kærlighed. Bagaimana kabarmu?” tanya Mathias riang.
Nana terkejut dan menyadari siapa dia. Mata Nana berkilat-kilat marah dan dengan sigap melepaskan diri dari Mathias. Lalu melemparkan tasnya ke arah Mathias.
“Pergi!” bentak Nana gusar. “Jag hatar dig sa mycket!”
“Kamu ini kenapa, min lile pige?” tanya Mathias heran, tidak mempercayai apa yang dialaminya saat ini. Nana yang biasanya manis kepadanya, kini berubah jadi kasar.
Nana tidak menjawab satu patah katapun pada Mathias dan terus memandangi Mathias dengan sorot mata penuh kebencian yang mendalam. Lebih tepatnya karena sudah terlampau kecewa.
Mathias tidak tahu hal itu.
Mengingat hal itu sudah cukup menyakitkan bagi Mathias. Sampai saat ini juga, Mathias tidak berhasil menemukan alasannya mengapa Nana seperti itu. Apa Berwald memaksanya untuk memperlakukan Mathias seperti itu.
Rasanya itu juga tidak mungkin, Nana merupakan tipikal gadis yang berani menentang kakaknya sendiri. Mathias ingat waktu festival Midsommardag, Nana marah besar pada Berwald karena Berwald memberikan death glare pada pria Spanyol yang baru saja mengajaknya berkencan. Sebenarnya wajar saja Berwald seperti itu, Nana adalah adik satu-satunya dan usia Berwald dengan Nana berjarak lima belas tahun. Jarak usia yang lebih mirip ayah dan anak. Begitu juga dengan Mathias, Nana dan Mathias berbeda dua puluh dua tahun.
Atau ada kemungkinan lain, apa Nana bersikap seperti itu kepadanya karena Nana adalah penyanyi yang baru saja naik daun di Skandinavia dan Nana juga sudah berkecimpung di dunia modelling sejak Nana berusia tiga belas tahun. Nana berwajah manis dengan rambut pirang panjang sebahu dan tinggi sekitar 175 cm. Selain itu Nana juga merupakan gadis yang modis, bila dibandingkan dengan Mathias yang selalu berpakaian resmi tentu tidak ada apa-apanya.
Atau juga dia bersikap seperti itu karena Mathias hanyalah pemilik perusahaan semata, bukan artis atau apapun. Mathias tidak peduli Nana adalah seorang artis atau bukan karena Mathias mencintai Nana karena Nana adalah Nana. Yang Mathias inginkan adalah Nana yang pernah dikenalnya ketika Nana masih anak-anak, bukan Nana yang seorang bintang besar.
Ketika Nana berusia lima belas tahun, Mathias mulai merasakan ketertarikan pada gadis Swedia itu walau Mathias selalu berusaha menyangkal perasaannya. Seiring dengan bertambahnya usia Nana, perasaan yang dimiliki Mathias terhadap Nana semakin berkembang di hati Mathias bahkan menyiksa batinnya. Dia sempat mencoba menjalin hubungan dengan wanita lain tetapi selalu berakhir buruk. Nana telah mencuri hatinya.
“Mengapa sedih?” tanya seseorang dari belakang dan orang itu menepuk bahu Mathias. “Apa ada sesuatu?”
Suara itu dikenal olehnya. Mathias menoleh dan mendapati Nana berdiri di belakangnya. “Ja, tumben kau di sini?”
Nana tidak bisa menahan hatinya yang berdebar ketika berdekatan dengan Mathias lalu membuang wajahnya ke arah lain. “Kupikir kau akan mati di sini?” tanya Nana perlahan.
Mathias bernafas lega, ternyata Nana masih peduli padanya walaupun hanya sedikit. Mungkin Nana tidak membencinya. Pasti ada sesuatu yang dialami Nana sehingga sikap Nana berubah terhadapnya.
Mata Mathias terus tertuju pada Nana yang tanpa riasan make-up dan penampilannya yang sederhana. Nana begitu cantik, batin Mathias di dalam hatinya. Bahkan lebih cantik daripada yang di layar kaca.
“Hm, udara hari ini sangat dingin,” kata Mathias dengan nada santai, berusaha untuk mencari bahan pembicaraan. “Tidak beristirahat di rumahmu? Bukankah kamu mau ujian tahun ini.”
“Bukan urusanmu,” jawab Nana ketus. “Aku sedang mencari udara segar karena bosan.”
“Lalu?” tanya Mathias. “Apa yang kamu temukan?”
Nana mendengus. “Sayangnya yang kutemukan hanyalah orang yang bersedih. Habis patah hati ya, Om?” tanyanya dengan nada mengejek.
Wajah Mathias berubah menjadi sedikit suram. “Aku bukan Om!”
“Om-om pedo,” tukas Nana kesal sambil meninggalkan Mathias.
Mathias buru-buru menarik tangan Nana dengan erat. “Tunggu dulu, jangan pergi!”
Nana membeku di tempatnya sendiri. Jantungnya berdegup kencang. “Kau mau apa lagi!” bentak Nana tetapi nadanya terdengar gugup. “Jag hatar dig sa mycket!”
“Men jeg elsker dig.”
Jantung Nana berdebar kencang. Telinganya terasa kelu mendengar perkataan terakhir Mathias dan tidak bisa mempercayainya. Nana tidak mempercayai Mathias sedikitpun, Mathias membencinya dan itu selalu dikatakan oleh banyak orang. Apa Mathias berkata seperti itu hanya untuk mengerjainya saja. Lagipula Mathias sudah berusia empat puluhan sedangkan Nana belum ada dua puluhan.
“Kau bohong,” ujar Nana dengan nada bergetar. “Aku tidak percaya padamu sedikitpun.”
Wajah Mathias berubah lemah. “Semakin hari kamu mirip dengan kakakmu, kamu semakin kaku walau di luar sana kamu selalu bersikap layaknya gadis periang tanpa beban.”
“Kau tidak tahu apa-apa tentang aku,” kata Nana dingin, sorot matanya berubah sendu. “Aku memang seperti ini sejak dulu.”
Mathias terdiam, dia merasakan sesuatu yang ganjil terhadap Nana. Sesuatu yang disembunyikan Nana sejak dulu, apakah hal itu berkaitan erat dengan sikap Nana terhadapnya.
“Katakan jika kamu ada masalah,” kata Mathias lembut.
Nana buru-buru meninggalkan tempat itu tanpa mengatakan apa-apa pada Mathias.
“NANA! TUNGGU!” panggil Mathias kelu.
Nana tidak mempedulikan panggilan Mathias tetapi Nana bisa merasakan dinginnya udara malam itu sekaligus kata-kata Mathias yang dilontarkannya sebelum Nana meninggalkan tempat itu. Malam semakin dingin dan Nana memutuskan untuk pulang ke rumah dan memikirkan sesuatu hal.
TBC
Jag alskar dig (swedish)= i love you
Jeg elsker dig (danish)=I love you
Min kaerlighed (danish)=my love
Jag hatar dig sa mycket (swedish)= I hate you so much
Men jeg elsker dig (danish)=But I love you
midsommardag= acara musim panas di swedia (midsummer day)

No comments:
Post a Comment