[[Plotnya minjem dari buku Bujangan Hart Terakhir dari Diana Palmer dan APH punya Hidekaz Himaruya]]
Danish Bar tidak terlalu ramai ketika mobil Mathias Kohler berhenti mendadak di lapangan parkir. Ia melangkah masuk ke restoran pinggir jalan itu dengan kemarahan yang menyala-nyala. Trio Baddass yang duduk di dekat pintu berhenti berbicara ketika melihatnya di pintu. Sepertinya Mathias benar-benar berbahaya.
Nana Oxenstierna memikirkan hal yang sama. Ia meyakinkan Berwald bahwa ia tidak takut pada Mathias, tapi tidak yakin lagi setelah Mathias melangkah ke arahnya dengan bibir terkatup rapat seperti ini.
Mathias berhenti di depan konter dan mengamati celemek panjang Nana, tangannya yang berlumuran tepung, serta pensil yang terselip di balik telinganya. Nana kelihatan sibuk. Trio Badass di konter menunggu paella dan pizza. Raivis menarik pizza di atas serok panjang dari oven besar di belakang Nana.
“Kemasi barang-barangmu!” perintah Mathias pada Nana dengan nada yang tidak pernah digunakannya sejak Nana kecil. Nana menatap Mathias dengan tatapan sengit. Ya, Nana pernah nyaris diculik oleh Francis Bonnefoy dan ketika Mathias menghajarnya, Nana baru menyadari alasannya sekarang. Ia nyaris celaka tetapi Nana tidak butuh diselamatkan sekarang.
Nana mengangkat dagu dan memandang Mathias gusar. Malam pesta dansa kembali terbayang dengan jelas. “Bagaimana kakimu?” tanyanya sinis.
“Kakiku baik-baik saja. Kemasi barang-barangmu,” ulang Mathias singkat sambil menggendong Nana. Nana terkesiap dan segera mengambil satu pitcher bir dan menyiramkan isinya ke arah Mathias.
“Dengar ya, aku.. Mathias!”
Bir itu tidak memperlambat langkahnya. Mathias membopong Nana di lengannya dan berbalik, membawanya ke pintu. Nana menendang-nendang dan berteriak sekuat tenaga.
“Turunkan dia, Kohler!” perintah Vash Zwingli.
Nana menggerutu. “Hajar dia, Zwingli.”
“Diam manusia senapan. Aku membawanya pulang ke tempat yang aman,” jawab Mathias gusar. “Nana tidak seharusnya bekerja di sini.”
“Ini bukan bar,” kata Vash. “Ini restoran pinggir jalan menuju luar kota. Mr. Kirkland tidak mengijinkan pemabuk masuk sini. Turunkan Miss Oxenstierna atau aku terpaksa memukulmu.”
“Dia bakal melakukannya,” Nana memperingatkan. “Dia bahkan pernah memukul pria yang lebih besar darimu. Ya kan, Zwingli?”
“Benar.”
Mathias tidak gentar . Ia memelototi Vash dan nadanya berubah menjadi berbahaya. “Dia harus pulang.
“Menurutku dia tidak ingin pergi, Mr. Kohler,” sela suara lain di belakang Mathias. Mathias berputar, masih membopong Nana di tangan besarnya. Orang itu, Eduard von Bock, sahabat Tiina Oxenstierna, istri dari Berwald Oxenstierna.
Mathias menatap Eduard berang dan menghajarnya secepat kilat. Nana menjerit ngeri. Tetapi Mathias tidak peduli sama sekali.
“DEMI APA, KAU!” bentak Nana ngeri melihat Eduard yang kini sudah berdarah-darah. “Kau tidak berhak mencegahku untuk bekerja di sini. Memangnya Belgie tidak akan keberatan kau disini menggangguku.”
Pipi Mathias memerah. “Aku tidak bertemu Belgie sebulan belakangan ini dan aku tidak peduli.”
Itu berita baru. Nana sama penasarannya dengan Eduard.
Vash masih menunggu. “Turunkan dia,” tegasnya.
Mathias makin geram. Wajahnya menegang. “Aku tidak tahu mengenai Vash tetapi kau, Eduard, cuma masalah sepele buatku.”
Mathias menonjok Eduard sekali lagi dan mata Mathias ganti menatap mata Nana dengan tajam. “Kau ingin terus bekerja di sini. Teserah! Tetapi jika kau dilecehkan pemabuk yang kurang ajar. Jangan menangis padaku.”
“Memangnya aku mau!” sembur Nana. Mathias pergi meninggalkan Nana dengan perasaan kesal sekaligus tertolak. Mathias tidak bisa lupa ketika Mathias terlibat affair dengan Belgie dan Nana melihatnya. Nana sangat mencintai Mathias tetapi Mathias selalu menganggapnya anak kecil. Ketika Nana menangis, barulah Mathias sadar betapa dirinya mencintai Nana. Selama ini, Mathias selalu membalas pendekatan Nana dengan hati-hati karena masalah perbedaan umur.
**
Mathias beruntung tidak ditangkap karena ngebut dalam perjalanannya ke rumah keluarga Oxenstierna. Sesampai di rumah keluarga Oxenstierna, Mathias membuka pintu rumah mereka dengan kasar. Tiina yang saat itu sedang menggendong anak pertamanya, Rin, terkejut dan ngeri melihat Mathias. Mathias tidak peduli. Sialnya di rumah itu sedang kedatangan tamu, Halldora dan Erik.
"Halo kambing," sapa Erik Kohl.
"Apa yang terjadi denganmu, Mathias?" tanya Peter ngeri. "Kau bau bir."
Mathias menggeram. "Katakan saja pada ayahmu yang bau kaleng ikan itu untuk menyuruh Nana keluar dari bar sialan itu," katanya dengan nada kejam.
"Ada apa?" tanya Berwald.
"Oh yeah, adikmu membaptisku di depan sekumpulan pemabuk sialan dengan satu pitcher bir. Bayangkan itu. BAYANGKAN." raung Mathias dengan lebaynya. "Dia meminta tukang pukul untuk memukuliku."
"Lalu?"
"Aku berkelahi dengan Eduard. Jaga sikap dia dan jangan mendekati Nana."
Berwald menutup mulutnya, menahan diri untuk tidak tertawa. Perkelahian ini akan menjadi buah bibir dalam sebulan. "Gawat," cetusnya.
"Bukan salahku," bentak Mathias. "Aku pergi ke sana untuk menyelamatkannya dari hinaan dan pelecehan pria-pria mabuk, dan lihat apa imbalannya? Aku basah kuyup, disiram bir, diancam pria senapan, ditertawai.."
"Siapa yang menertawaimu?" tanya Halldora penasaran.
"Asian bersaudara," kata Mathias geram.
Keluarga Oxenstierna plus Kohl saling beradu pandang. Mereka menyadari bahwa Mathias cemburu pada Eduard hingga orang bodoh pun bisa merasakannya. Mungkin Nana juga bisa merasakannya.
FIN

No comments:
Post a Comment